Jumat, 10 Juni 2011

TEKNOLOGI BIOPORI SEBAGAI ALTERNATIF SOLUSI TIGA PERMASALAHAN LINGKUNGAN PERKOTAAN


 Disusun Oleh : Riza Sativani Hayati

Seperti yang kita tahu, daerah perkotaan di Indonesia memiliki permasalahan-permasalahan lingkungan yang susah ditemukan solusinya. Tiga diantara permasalahan tersebut adalah sampah yang tidak terkelola dengan baik, banjir yang sulit diatasi karena sulitnya masyarakat hidup sadar lingkungan, serta kerusakan struktur tanah yang berakibat pada menurunnya kesuburan tanah.
Permasalahan pertama, yakni sampah yang tidak terkelola dengan baik. Di daerah perkotaan, sampah semakin menumpuk dan menjamur dimana-mana, bahkan TPA-TPA sudah tidak mampu menampung sampah perkotaan. Sampah yang tidak terkelola dengan baik ini memberikan efek yang merugikan, baik bagi lingkungan ataupun masyarakat sendiri. Efek bagi lingkungan adalah terciptanya lingkungan yang kumuh dan bencana banjir siap menghadang. Sedangkan bagi masyarakat, sampah mrmberikan dampak negatif bagi kesehatan, karena sampah ini merupakan sarang yang efektif bagi bibit penyakit. Secara umum, permasalahan pengelolaan sampah yang kurang ini akibat dari kurang sadarnya masyarakat akan pentingnya pnelolaan sampah, ditambah dengan aktivitas perkotaan yang acuh dengan lingkungan serta minimnya pengetahuan mereka tentang pengelolaan sampah.
Permasalahan kedua, yakni banjir ini telah menghampiri perkotaan-perkotaan besar seperti Jakarta, Bekasi, Tangerang, bahkan Jogjakarta. Permasalahan banjir ini dominan disebabkan oleh perilaku masyarakat yang kurang sadar lingkungan, yakni membuang sampah di sungai, daerah aliran sungai di perkotaan menjadi daerah padat penduduk yang menjadikan daerah tersebut kumuh, pembangunan gedung-gedung yang tidak mempertimbangkan aspek sadar lingkungan serta ketidakteraturan masyarakat dalam pengelolaan sampah.
Permasalahan ketiga, yakni kerusakan struktur tanah akibat padatnya bangunan-bangunan di perkotaan, berkurangnya aktivitas pertanaman tumbuhan, serta aktivitas manusia perkotaan yang tidak memperdulikam aspek kesuburan tanah seperti mengubur sampah anorganik, membuang limbah cair tanpa pengelolaan ke tanah atau sungai, serta aktivitas-aktivitas lainnya. Aktivitas-aktivitas tersebut menyebabkan kerusakan struktur tanah, yakni berkurangnya aspek biologi, fisika serta kimia tanah, seperti hewan dan mikroorganisme tanah, pori-pori tanah, dan kandungan hara tanah.
Ketiga permasalahan tersebut jika tidak segera ditangani, maka akan memberikan banyak dampak negatif bagi daerah perkotaan, baik dari segi kesehatan, lingkungan, ataupun sosial ekonomi. Dari segi kesehatan, masyarakat akan dihantui beberapa bibit penyakit yang timbul dari sampah dan banjir. Dari segi lingkungan, daerah perkotaan yang terlihat megah dan mewah namun akan menyimpan lingkungan kumuh, dimana TPA semakin meningkat jumlahnya, sungai semakin tidak terkelola dengan baik, dan daerah padat penduduk yang kumuh. Dari segi sosial ekonomi, salah satunya dalam aspek pariwisata, wisatawan manca maupun domestic akan berpikir ulang untuk mengunjungi kota yang lingkungannya kurang mendukung dan dari segi kesehatan yang buruk.
Melihat banyaknya dampak yang dapat terjadi akibat ketiga permasalahn tersebut, maka diperlukan solusi yang tepat untuk mengatasi permasalahan tersebut. Salah satu solusi yang ditawarkan adalah teknologi biopori. Sebelum membahas lebih lanjut tentang teknologi biopori, perlu diketahui konsep dari biopori terlebih dahulu. Menurut Brata (2008) biopori merupakan ruang atau pori dalam tanah yang dibentuk oleh makhluk hidup, seperti mikroorganisme tanah dan akar tanaman. Bentuk biopori menyerupai liang (terowongan kecil) di dalam tanah dan bercabang-cabang dan sangat efektif untuk menyalurkan air dan udara ke dalam tanah. Liang pori terbentuk oleh adanya pertumbuhan dan perkembangan akar tanaman, serta aktivitas fauna tanah seperti cacing tanah, rayap dan semut di dalam tanah. Menurut Rauf (2009) keberadaan biopori yang banyak akan meningkatkan daya serap tanah terhadap air,  karena air akan lebih mudah masuk ke dalam tubuh (profil) tanah.
Bentuk biopori meyerupai liang kecil dan bercabang-cabang yang sangat efektif menyerap air ke dalam tanah. Berbagai ukuran dan jenis organisme tanah hidup di antara pori-pori dan melalui pori tersebut organisme memperoleh air dan oksigen sedangkan untuk makanan diperoleh dari bahan organik berupa pelapukan sisa-sisa tanaman dan mahluk hidup lainnya. Populasi dan aktivitas organisme tanah dapat ditingkatkan dengan menyediakan bahan organik yang cukup di dalam tanah, sehingga organisme tanah akan memperoleh makanan yang cukup untuk hidup dan berkembang biak.
Dari konsep biopori tersebut, maka muncullah suatu gagasan mengenai teknologi biopori atau yang lebih dikenal dengan LRB (Lubang Resapan Biopori). Ide kreatif ini muncul dari Ir. Kamir R. Brata, MSc., dosen Ilmu Tanah dan Sumber Daya Lahan Institut Pertanian Bogor. Ide pembuatan biopori muncul pada saat beliau meneliti bongkahan tanah kawasan hutan konservasi di Sumatra. Pada bongkahan itu terdapat ratusan lubang mirip erowongan yang berbentuk pori-pori. Lubang-lubang itu dibuat oleh semut, rayap, cacing, dan akar tanaman. Satu bongkahan seukuran buah kelapa mengandung ratusan lubang yang menyerap air dikala hujan. Penelitian lebih lanjut menunjukkan adanya lubang tak kasatmata yang terdapat pada bongkahan, berupa ratusan lubang biopori. Lubang-lubang ini berfungsi menyerap air, menyaring air bersih, mengurai sampah organik, serta menjaga unsur hara pada tanah.
Teknologi biopori merupakan salah satu teknologi yang mengadopsi konsep biopori. Teknologi biopori ini dengan membuat suatu lubang yang digali secara vertikal dengan diameter 10 cm dan kedalaman kurang lebih 1 meter. Penggalian lubang resapan biopori ini dapat dilakukan dengan menggunakan bor biopori yang bertujuan khusus untuk membuat LRB yang seragam, bor ini telah banyak dijual di pasaran.
 Teknologi biopori disebut pula mulsa vertikal, karena teknologi ini mengandalkan jasa fauna tanah seperti cacing dan rayap untuk membentuk pori-pori alami di dalam tanah. Adanya sampah organik menyebabkan air bisa terserap dan struktur tanah diperbaiki. Peningkatan jumlah biopori dapat dilakukan dengan membuat lubang vertikal ke dalam tanah, kemudian diisi dengan bahan oganik. Bahan organik dipergunakan sebagai sumber bahan energi dan nutrisi bagi aneka ragam biota di dalam tanah untuk meningkatkan terbentuknya biopori di dalam tanah. Peningkatan laju peresapan air melalui lubang resapan yang berdiameter kecil tersebut terjadi karena adanya proses pembentukan biopori di dalam tanah, sehingga disebut sebagai teknologi lubang resapan biopori.
Teknologi biopori ini lebih baik diterapkan pada lingkungan yang kurang memiliki lahan terbuka, seperti daerah perkotaan yang hampir seluruh ruas jalan teraspal dan halama rumah tersemen atau terkonblok. Karena lebih baik diterapkan di lingkungan perkotaan, maka teknologi biopori ini tepat sebagai alternatif solusi tiga permasalahan lingkungan yang telah dipaparkan di atas, yakni pengelolaan sampah, banjir, dan kerusakan struktur tanah. Berikut akan dilakukan pembahasan terkait penerapan teknologi biopori pada masing-masing permasalahan lingkungan tersebut.
1.    Teknologi Biopori Sebagai Alternatif Pengomposan
Penerapan teknologi biopori untuk mengatasi permasalahan pengelolaan sampah adalah dengan pengomposan melalui lubang resapan biopori ini. Seperti yang telah diketahui bahwa untuk memelihara adanya aktivitas populasi mikroorganisme ataupun biota tanah yang membuat pori-pori tanah diperlukan adanya makanan bagi makhluk hidup tersebut. Salah satu alternatif dalam memberikan makanan bagi  hewan serta mikroorganisme tanah tersebut adalah dengan memberikan sampah organik dalam lubang resapan biopori, dengan kata lain lubang biopori ini dapat digunakan untuk pengomposan skala kecil. Dengan pengomposan skala kecil dalam setiap lubang biopori tersebut, paling tidak dapat mengurangi banyaknya sampah di perkotaan. Ini dapat juga digunakan bagi masyarakat  perkotaan utuk mengelola sampah tumah tangga. Dengan demikian masing-masing rumah daerah perkotaan memiliki sistem pengomposan tersendiri. Hal ini akan mengurangi sampah perkotaan secara umum.
Sampah organik yang dimasukkan ke dalam lubang resapan biopori ini dapat digunakan oleh mikroorganisme ataupun makroorganisme tanah sebagai makanan, sehingga memicu tumbuh kembang, perkembangbiakan, serta aktivitas lain dari hewan-hewan tersebut dalam lingkungan lubang resapan biopori. Menurut Brata (2008) dalam waktu 14 hari setelah pemberian bahan organik, secara alami akan terbentuk biopori/liang-liang memanjang dan bercabang-cabang di dalam tanah akibat aktivitas cacing dan mikroorganisme lainnya. Aktivitas-aktivitas tersebut, terutama makan serta mengeluarkan bunga tanah (kotoran) memberikan dampak yang sangat baik bagi tanah serta manusia sebagai pelaku pengomposan. Bagi tanah tentu aktivitas organisme tanah ini memberikan tambahan jumlah biopori serta unsur hara yang menambah kesuburan tanah. Sedangkan bagi manusia, aktivitas organisme tersebut tentunya menghasilkan kompos yang dapat digunakan sebagai pupuk alami serta dapat dikomersialkan. 

Pada lubang resapan biopori yang digunakan sebagai alternatif pengomposan, agar lubang biopori tetap berfungsi optimal maka secara rutin diisi dengan bahan organik, sehingga di dalam lubang resapan biopori akan tetap berlangsung proses pengomposan secara aerobik oleh mikroorganisme tanah. Bahan organik yang digunakan dapat diperoleh dari berbagai sumber antara lain sampah dapur rumah tangga, potongan/pangkasan tanaman, sisa produksi pertanian yang tidak dimanfaatkan dan sebagainya. Sehingga hal inilah yang menjadi perhatian bahwa teknologi biopori dapat digunakan sebagai alternatif pengomposan sampah rumah tangga daerah perkotaan, jadi walaupun tidak memiliki lahan namun tetap dapat mengelola sampah dengan baik melalui pengomposan skala kecil dengan teknologi biopori ini.
 Pada suatu penelitian, bahan organik yang digunakan pada proses pengomposan melalui biopori ini adalah jerami padi, dengan pertimbangan bahwa jerami padi mengandung nutrisi yang dibutuhkan oleh mikroorganisme tanah di samping itu jerami padi mudah diperoleh dalam jumlah yang banyak sehingga perlakuan lebih homogen. Proses dekomposisi jerami yang dilakukan mikroorganisme tanah berjalan sesuai dengan teori pengomposan aerobik, di mana pada proses ini akan menghasilkan CO2, air (H2O), humus dan energi. Sepanjang siklus hidupnya mikroorganisme sangat tergantung kepada bahan organik, di mana energi yang dihasilkan akan dimanfaatkan oleh mikroorganisme untuk pertumbuhan dan reproduksi (Djanuardi dan Setiawan, 2008). Dengan demikian maka keberhasilan teknologi lubang resapan biopori sangat tergantung pada ketersediaan bahan makanan mikroorganisme yang berasal dari sampah organik.
Penjelasan di atas menunjukkan bahwa pengomposan skala kecil atau rumah tangga sangat efektif jika dilakukan di daerah perkotaan. Hal ini dapat mengatasi permasalahan lingkungan pertama, yakni pengelolaan sampah yang kurang baik di daerah perkotaan. Dengan adanya pengomposan ini diharapkan jumlah sampah rumah tangga penduduk perkotaan dapat dikelola secara mandiri oleh masing-masing rumah tangga.
2.    Teknologi Biopori Sebagai Alternatif Pencegah Genangan Air
Permasalahan lingkungan di daerah perkotaan yang kedua yakni timbulnya genangan yang berakibat pada banjir. Salah satu alternatif yang baik bagi mencegah adanya genangan adalah dengan teknologi biopori ini. Secara umum, tujuan utama dibuatnya biopori adalah untuk mencegah adanya genangan air. Bentuk biopori meyerupai liang kecil dan bercabang-cabang sangat efektif menyerap air ke dalam tanah. Biopori ini menjadi jalan untuk masuknya air ke dalam tanah, air yang masuk kedalam tanah ini akan disimpan di dalam tanah sekaligus menjadi bahan yang dibutuhkan untuk pengomposan dalam biopori. Prinsip pada teknologi biopori dengan tujuan ini adalah menghindari air hujan mengalir ke daerah yang lebih rendah dan membiarkannya terserap ke dalam tanah melalui lubang resapan tersebut.
Dengan adanya aktivitas fauna tanah pada lubang resapan maka biopori akan terbentuk dan senantiasa terpelihara keberadaannya. Lubang-lubang biopori akan terisi udara, dan akan menjadi tempat berlalunya air dalam tanah. Bila lubang-lubang seperti ini dibuat dalam jumlah banyak maka kemampuan sebidang tanah untuk meresapkan air akan meningkat. Meningkatnya kemampuan tanah dalam meresapkan air akan memperkecil peluang terjadinya aliran air di permukaan tanah. Hal ini akan mengurangi bahaya banjir yang mungkin terjadi.
Adanya seresah ataupun sampah organik yang menjadi makanan bagi organisme pembuat bopori, maka biopori akan senantiasa terpelihara keberadaannya. Oleh karena itu bidang resapan ini akan selalu terjaga kemampuannya dalam meresapkan air. Dengan demikian kombinasi antara luas bidang resapan dengan kehadiran biopori secara bersama-sama akan meningkatkan kemampuan dalam meresapkan air.

Kehadiran lubang resapan biopori secara langsung akan menambah bidang resapan air, setidaknya sebesar luas kolom/dinding lubang. Sebagai contoh bila lubang dibuat dengan diameter 10 cm dan dalam 100 cm maka luas bidang resapan akan bertambah sebanyak 3140 cm2 atau hampir 1/3 m2. Dengan kata lain suatu permukaan tanah berbentuk lingkaran dengan diamater 10 cm, yang semula mempunyai bidang resapan 78,5 cm2 setelah dibuat lubang resapan biopori dengan kedalaman 100 cm, luas bidang resapannya menjadi 3218 cm2.
Melihat fungsi utama biopori sebagai alternatif pencegahan genangan air, maka tempat yang dianjurkan untuk pemasangan biopori adalah di saluran pembuangan air hujan, sekeliling pohon, kontur taman, pada sisi pagar, dan tempat lain yang dianggap sesuai. Sudah semestinya biopori ditempatkan pada titik yang berpotensi terjadi genangan, karena pembuatan biopori pada lokasi yang agak tinggi maka laju resapan air tidak maksimal.
Lubang biopori merupakan teknologi sederhana untuk konservasi lahan dan penyediaan air bersih. Lubang ini dikembangkan atas dasar prinsip ekohidrologis, yaitu memperbaiki kondisi ekosistem tanah untuk perbaikan fungsi hidrologis ekosistem tersebut. Teknologi ini bisa diaplikasikan di kawasan perumahan yang 100% kedap air atau sama sekali tidak ada tanah terbuka maupun di areal persawahan yang berlokasi di kawasan perbukitan. Lubang sebaiknya dibuat di bagian tanah yang tidak terendam air atau lebih tinggi dari saluran air. Jika lubang tersebut terendam air maka fauna tanah seperti cacing, rayap, dan semut akan kekurangan oksigen. Selain itu, menyebabkan hilangnya kemampuan meresapnya air karena sudah jenuh.
Selain mengurangi resiko banjir, Teknologi Biopori ini mampu memaksimalkan kemampuan tanah menyerap air dan menambah persediaan air tanah, mengurangi risiko terjangkitnya penyakit akibat air menggenang, menampung air hujan sehingga tidak terbuang ke laut sia-sia, serta menyelamatkan kehidupan biota tanah dan mencapai keseimbangan lingkungan.
3.    Teknologi Biopori Perbaiki Struktur Tanah
Struktur tanah daerah perkotaan tentunya semakin berkurang, hal ini diakibatkan oleh adanya pembukaan lahan, polusi tanah dari limbah, serta aktivitas yang kurang ramah lingkungan. Struktur tanah perkotaan yang sudah kurang baik, seperti porositas yang rendah, aerasi kurang, serta kesuburan tanah yang tidak baik dapat diperbaiki dengan diterapkannya teknologi biopori. Biasanya tanah yang terbuka, langsung terpapar sinar matahari akan ditumbuhi lumut yang kemudian menyumbat pori dalam tanah tersebut, sehingga porositas berkurang dan aerasi kurang baik. Hal ini akan memberikan efek bagi air yang terhalangi untuk masuk ke dalam tanah dan akhirnya hanya akan mengalir ke daerah yang lebih rendah sehingga mengakibatkan adanya genangan air. Oleh karena itu diperlukan perbaikan struktur fisik tanah, salah satunya dengan penerapan teknologi biopori.
Dengan pembuatan biopori ini, aktivitas organisme akan meningkat, sehingga biopori yang dibuat oleh aktivitas organisme juga akan bertambah. Bertambahnya jumlah biopori ini akan memberikan dampak meningkatnya porositas serta aerasi tanah. Air akan mudah masuk ke dalam tanah melalui biopori , begitu pula oksigen akan dipermudah masuk ke dalam tanah. Perbaikan struktur tanah ini tentunya menambah kesuburan tanah dari segi fisik.
Dengan meningkatnya aerasi serta porositas, maka memungkinkan keberadaan organisme aerob yang membantu proses pengomposan dalam lubang resapan biopori. Dengan adanya aktivitas pengomposan, selain menghasilkan air serta CO2, pengomposan juga memberikan residunya berupa unsur-unsur yang terkandung di dalam sampah yang dikomposkan. Unsur hara yang ditambahkan ke dalam tanah ini akan memberikan tambahan kandungan hara yang ada di dilam tanah sehingga meningkatkan kesuburan tanah dari segi kimiawi.

Apabila kita ingin menerapkan teknologi biopori ini dengan baik, yakni sebagai solusi permasalahan lingkungan perkotaan, maka dalam membuat lubang resapan biopori perlu memperhatikan beberapa hal berikut, yakni :
1.    Membuat lubang silindris secara vertikal ke dalam tanah dengan diameter 10 sampai 30 cm. Kedalaman lubang kurang lebih 100 cm atau tidak sampai melampaui muka air tanah. Jarak antar lubang antara 50 - 100 cm.
2.    Mulut atau pangkal lubang dapat diperkuat dengan adukan semen selebar 2 - 3 cm dengan tebal 2 cm di sekeliling mulut lubang, supaya tanah tidak jatuh ke dalam lubang (longsor). Potongan pipa paralon atau bambu betung berdiameter 10 cm juga dapat digunakan sebagai penguat mulut lubang resapan biopori.
3.    Lubang diisi dengan sampah organik yang berasal dari sampah dapur, sisa tanaman, dedaunan atau pangkasan rumput. Bila lubang yang dibuat berdiameter 10 cm dengan kedalaman 100 cm, setiap lubang dapat menampug kurang lebih 7,8 liter sampah organik. Fauna tanah seperti cacing dan semut, akan datang dengan sendirinya ke dalam lubang untuk mencari perlindungan dan bahan makanan. Fauna tanah tersebut akan berkembang biak menciptakan biopori yang dapat mempercepat laju peresapan air dalam lubang serta mempercepat perombakan sampah organik menjadi kompos.
4.    Sampah organik perlu ditambahkan ke dalam lubang yang isinya sudah berkurang dan menyusut akibat proses pelapukan.
5.    Kompos yang terbentuk dalam lubang dapat diambil pada setiap akhir musim kemarau bersamaan dengan pemeliharaan lubang resapan.

Dari beberapa penjelasan penerapan teknologi biopori dalam ketiga masalah lingkungan di daerah perkotaan tersebut, maka sangat perlu sekali masyarakat perkotaan menerapakan teknologi biopori ini mulai dari skala rumah tangga. Jika masing-masing rumah memiliki tekonologi biopori, maka dampak ketiga permasalahan tersebut dapat dikurangi. Paling tidak saat ini diperlukan proses sosialisasi kepada masyarakat terkait tawaran teknologi biopori ini sebagai solusi permasalahan lingkungan perkotaan. Jika masyarakat sudah diberikan pengetahuan, maka langkah selanjutnya adalah membimbing mereka hingga mampu mengaplikasikan teknologi biopori ini.


DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2009. Teknologi Biopori untuk Lingkungan. Diambil dari www.pustekkom.com pada hari Senin. 6 Juni 2011 pukul 15.15 wib
Arkidea. 2010. Biopori sebagai ramah lingkungan & Cadangan Air Bawah Tanah\.Diambil dari http://sites.google.com/site/arkideajakarta1/ pada hari Senin. 6 Juni 2011 pukul 15.15 wib

Zainal, Arifin. 2010. Biopori, Solusi Banjir di Perkotaan. Diambil dari http://zainalarif.wordpress.com/2010/05/21/biopori-solusi-banjir-di-perkotaan/ pada hari Senin. 6 Juni 2011 pukul 15.15 wib

Anne, Ahira. 2010. Biota dan Biopori dalam Tinjauan Biologi Tanah. Diambil dari. http://www.anneahira.com/biologi-tanah.htm pada hari Senin. 6 Juni 2011 pukul 15.15 wib
Anton, Sutrisno.2011. Mengenal Biopori. Diambil dari http://antonsutrisno.webs.com/ pada hari Senin. 6 Juni 2011 pukul 15.15 wib



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Tulis Komentar !!!