Rabu, 14 November 2012

GLOBALISASI SEBAGAI GERBANG PERANG PEMIKIRAN



1.      Pertanyaan:
Di era saat inirakyat Indonesia tidak terlepas dari arus globalisasi, menurut ibu, apa yang dimaksud globalisasi itu dari segi ontology dan aksiologi?
Jawaban :
Kata "globalisasi" diambil dari kata global, yang maknanya ialah universal atau sesuatu yang berkaitan dengan dunia internasional atau seluruh alam jagad raya. Secara ontology globalisasi dapat kita mengerti sebagai meningkatnya hubungan internasional dan saling keterkaitan di antara berbagai belahan dunia melalui terciptanya proses politik,ekonomi, dan perubahan kebudayaandi dunia ini tanpa dibatasi oleh wilayah. Karena globalisasi negara satu dan negara lainnya terjadi saling ketergantungan, membentuk pergaulan internasional dan membentuk satu tatanan kehidupan baru atau kesatuan ko-eksistensi dengan menyingkirkan batas-batas geografis, ekonomi dan budaya masyarakat.  Pengertian yang saya berikan ini mungkin kurang tepat karena globalisasi bersifat multi-dimensional dan tergantung cara pandang masing-masing.Secara aksiologi globalisasi dapat kita lihat dari berbagai dampak positif yang ditimbulkannya.
Tanggapan:
Ya, saya sepakat dengan jawaban Ibu, yang perlu kita tekankan mengenai pengertian globalisasi secara ontologi adalah hilangnya batas antar negara dalam  baik batas geografis, ekonomi dan budaya, sehingga antar satu negara dengan negara lain dapat melakukan transfer budaya dan komunikasi secara langsung tanpa ada batas apapun. Sedangkan secara aksiologi, nah, menurut saya kesalahan kita adalah selalu memandang globalisasi dari segi positifnya saja, jadi kita kurang memberikan alat filtrasi pada arus globalisasi tersebut.
2.      Pertanyaan:
Apa saja dampak positif globalisasi?
Jawaban:
Berbagai manfaat atau dampak positif dari globalisasi adalah:
a.       meningkatnya hubungan antar negara sehingga berpengaruh dalam berbagai bidang
b.      mempermudah arus modal dan barang hasil produksi dari negara lain dan meningkatkan perdagangan internasional sehingga mempermudah setiap orang memenuhi kebutuhan hidup
c.       meningkatnya telekomunikasi berkat ditemukannya telepon genggam dan internet sehingga mempercepat penyebaran informasi
d.      meningkatnya transportasi (mobilitas tinggi) berkat ditemukannya pesawat jet pasca perang dunia II
e.       memberi kenyamanan dalam beraktifitas karena semua telah tersedia dan ini cocok untuk kaum hedonisme
f.       mempercepat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.
g.      menumbuhkan sikap kosmopolitan dan toleran
h.      memacu untuk meningkatkan kualitas diri
i.        bertambah banyaknya event-event berskala global, seperti piala dunia fifa.
j.        berkembangnya proses dan kesadaran  berdemokrasi
Tanggapan:
Bagus Bu, saya sepakat dengan apa yang Ibu sampaikan.
3.      Pertanyaan:
Apa saja dampak negatif globalisasi?
Jawaban:
Berbagai manfaat atau dampak positif dari globalisasi adalah:
a.       Pertumbuhan kapitalisme, yaitu sistem dan paham ekonomi yang modalnya  bersumber dari modal pribadi atau modal perusahaan swasta dengan ciri persaingan dalam pasaran bebas.  Perdagangan bebas menimbulkan hambatan kepada negara berkembang untuk memajukan sektor industri domestik yang lebih cepat  sehingga terjadi ketergantungan kepada industri-industri yang dimiliki perusahaan multinasional.  Investasi asing yang bertambah banyak menyebabkan aliran keuntungan (pendapatan) investasi ke luar negeri semakin meningkat. Sebaliknya, apabila suatu negara tidak mampu bersaing, maka ekspor tidak berkembang. Dalam jangka pendek pertumbuhan ekonomi menjadi tidak stabil. Dalam jangka panjang akan mengurangi lajunya pertumbuhan ekonomi. Pendapatan nasional dan kesempatan kerja akan semakin lambat, timbul masalah pengangguran yang semakin meningkat dan masalah sosial-ekonomi masyarakat semakin bertambah buruk.
b.      komunikasi global terjadi begitu cepat dan pergerakan turisme menyebabkan masuknya berbagai kebudayaan yang kadang-kadang tidak sesuai dengan norma-norma yang berlaku di masyarakat kita sebelumnya
c.       meningkatnya masalah bersama, misalnya pada bidang lingkungan hidup, krisis multinasional, inflasi regional dan lain-lain.
d.      tumbuhnya perilaku konsumtif (konsumerisme), meningkatnya materialism dan hedonism.  Pornografi juga merajalela
e.       arus globalisasi yang menyebabkan demokratisasi di banyak Negara berkembang banyak memunculkan sikap dan tindakan anarkis karena penguasa atau elit politik dianggap sudah tidak lagi memperhatikan nasib dan kepentingan rakyat.  Wawasan kebangsaan semakin terpuruk sehingga menimbulkan disintegrasi bangsa.
Tanggapan:
Benar Bu, saya juga sepakat, ada banyak hal yang perlu kita sadari dari dampak negatif globalisasi tersebut. Perlunya filtrasi bagi arus globalisasi tersebut.
4.      Pertanyaan:
Bagaimana seharusnya kita menyikapi globalisasi tersebut?
Jawaban:
Pada era Power Now sekarang ini, kita tidak bisa menghindar dari globalisasi.  Hal-hal yang baik dan bermanfaat kita pakai saja dan pengaruh negatifnya sebisa mungkin kita reduksi.  Kita harus mempunyai penyaring (filter) untuk menghadapinya agar kita tidak terlindas oleh jaman. Terutama kita harus menyaring berbagai budaya yang tidak sesuai.  Untuk menyaring nilai-nilai negatif maka kita harus berpedoman pada nilai-nilai Pancasila, karena nilai-nilai Pancasila sesuai dengan situasi dan kondisi bangsa Indonesia. Sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa menempatkan spiritual kita di atas segala-galanya dan menjadi komandan di setiap langkah hidup kita. Kita harus menjadi manusia yang cerdas tetapi bernurani dan berjiwa manusiawi.Jika kita mengambil nilai-nilai negatif globalisasi, maka yang akan terjadi adalah kaburnya jati diri bangsa Indonesia dan masuknya kebiasaan-kebiasaan yang buruk.
Tanggapan:
Sepakat Bu, begitu banyaknya dampak positif dan dampak negatif yang ditimbulkan dari globalisasi, sehingga kita harus peka terhadap ruang dan waktu, tahu pada saat apa dan dalam kondisi yang bagaimana kita harus meletakkan filter arus globalisasi tersebut.
5.      Pertanyaan:
Negara barat saat ini tidak lagi banyak menggunakan perang fisik untuk menguasai negara-negara berkembang, mereka lebih kepada perang pemikiran.
Apakah ibu setuju dengan hal tersebut? Alasan?
Jawaban:
Saya tidak setuju sepenuhnya karena perang fisik yang ditunggangi oleh Negara-negara barat masih terjadi. 
Tanggapan:
Benar Bu, akan tetapi saat ini tanpa kita sadari perang pemikiran dari negara barat masuk pada negara-negara berkembang. Perang fisik hanya terjadi pada negara-negara yang tertentu saja, kebanyakan negara timur tengah, seperti Palestine, dan sebagainya. Akan tetapi banyak negara di dunia ini sebenarnya terjajah oleh perang pemikiran yang diluncurkan kaum barat.
6.      Pertanyaan:
Menurut ibu, apakah yang dimaksud perang pemikiran tersebut?
Jawaban:
Sebenarnya saya tidak paham masalah politik dan perang pemikiran menurut saya sudah bernuansa politik.  Perang pemikiran  bisa dianggap sebagai usaha merusak pola pikir dan akhlak melalui system kehidupan dan program-program hiburan yang dikemas dengan menarik
Tanggapan:
Iya, benar Bu, seperti itulah perang pemikiran itu. Jika di dalam Islam, kita lebih mengenalnya dengan Ghozwul Fikr, yaitu penyerangan dengan berbagai cara terhadap pemikiran umat Islam untuk merubah yang ada di dalamnya sehingga tidak bisa mengeluarkan darinya hal-hal yang benar. Perang dengan strategi seperti ini terbukti ampuh untuk menghancurkan umat Islam bila dibandingkan dengan perang secara militer. Kenapa? Kalau musuh-musuh Islam ingin menghancurkan ummat Islam dengan berperang secara militer, mereka akan kalah karena jumlah ummat Islam di dunia sangat banyak. Tapi, metode ghazwul fikr yang mereka lakukan mampu memecahbelah umat Islam sehingga jumlah ummat Islam yang benar-benar tahu dan mencintai Islam berkurang drastis.
7.      Pertanyaan:
Apakah ibu setuju juga dengan globalisasi sebagai salah satu gerbang pembuka jalan menuju peluncuran perang pemikiran?
Jawaban:
Setuju, Globalisasi sering disimbolkan dengan tiga dewa yaitu dewa Mammon (materialisme), Mars (perang/kekerasan) dan Eros (pornografi). 
Sekarang ini materi seolah-olah telah menjadi ukuran segala sesuatu. Dalam masyarakat mammonistik, agama resmi tinggal menjadi formalistik dan seremonistik. Nilai agama telah diganti menjadi nilai Mammon yaitu nilai uang. Maka berkembanglah hedonisme, yang mengagungkan kesenangan dan kenikmatan belaka. Akibatnya, hubungan kemanusiaan tidak lain dari hubungan materi.
Dewa Mars adalah simbol kedua globalisasi.   Dewa Mars globalisasi bukan hanya perangtetapi juga terorisme dan kekerasan yang terjadi di mana-mana.  Bom yang meledak di mana-mana, perampokan, pembunuhan, penculikan dan semua bentuk kekerasan yang seolah sah dan wajar dalam kehidupan manusia masa kini.Kekerasan yang terjadi bukan hanya terhadap sesama manusia tetapi juga terhadap lingkungan hidup sehingga terjadi banjir bandang, longsor, kekeringan dan berbagai kerusakan lingkungan yang berakibat fatal.
Dewi Eros dalam globalisasi melambangkan erotisme (pornografi)yang merusak moral banyak manusia di dunia dengan penggambaran-penggambaran yang tidak sehat dan tidak mendidik. Pemujaan terhadap seks di dunia maya membawa nilai baru dalam hubungan rumah tangga, hubungan laki-laki dan perempuan dan hubungan antar- manusia seolah tanpa penghormatan terhadap gender.
Tanggapan:
Super Bu, saya sepakat dengan Ibu. Globalisasi merupakan salah satu jalan terbaik untuk meluncurkan senjata-senjata perang pemikiran tersebut.
8.      Pertanyaan:
Apa saja peran globalisasi dalam peluncuran perang pemikiran?
Jawaban:
Tentu saja globalisasi menyebabkan perang pemikiran lebih cepat merajalela dan dampaknya lebih luas karena semua hal sekarang dapat diakses dengan mudah.
Tanggapan:
Benar Bu, pemikiran yang mengelabuhi kita itu akan lebih mudah tersebar merajalela menular melalui internet, TV, dan media lain yang juga merupakan jalan masuknya arus globalisasi.
9.      Pertanyaan:
Menurut ibu, apa saja sarana yang digunakan Negara barat untuk meluncurkan perang permikiran tersebut?
Jawaban:
Sarana yang digunakan:
a.       Teknologi, internet dan media audio visual yang menghadirkan berbagai tontonan hedonism
b.      Melalui “kebudayaan internasional” atau “modernisme”, dimotori oleh Eropa dan Amerika yaitu dengan cara mengekspor kebudayaan mereka ke belahan dunia terutama melalui dominasi film-film Hollywood
c.       Kapitalisme internasional yang merobohkan ekonomi lokal dan menawarkan berbagai kemudahan memperoleh barang dan mendorong masyarakat bersifat konsumerisme dan materialisme
Tanggapan:
Benar Bu, menurut artikel yang saya baca,
Tujuanperang pemikiran tersebut antara lain menjauhkan umat Islam dari agamanya, berusaha memasukkan yang sudah kosong Islamnya ke dalam agama kafir, dan memadamkan cahaya agama Allah. Sedangkan metode untuk mencapai tujuan tersebut antara lain dengan pendangkalan/peragu-raguan, pencemaran/pelecehan, penyesatan, dan westernisasi. Westernisasi bisa berupa fun, food, and fashion. Metode ini dilakukan melalui media massa yang berupa media cetak maupun elektronika.
10.  Pertanyaan:
Bagaimana dampak penggunaan sarana tersebut dalam perang pemikiran?
Jawaban:
Dampaknya bisa kita lihat, sangat efektif dan efisien.
Tanggapan:
Iya Bu, memang bisa kita lihat, Hasilnya antara lain umat Islam menyimpang dari Al Qur’an dan sunah, minder dan rendah diri, ikut-ikutan, dan terpecah-belah.
11.  Pertanyaan:
Apakah sudah terlihat dampak perang pemikiran di Indonesia?  Kalau iya apa saja?
Jawaban:
Dampak perang pemikiran tampak jelas di seluruh dunia termasuk Indonesia.  Seperti yang saya sebutkan di atas, kehidupan masyarakat kita mulai bersifat materialism.  Gotong royong mulai hilang.  Terorisme dan kekerasan ada di mana-mana dan bisa kita lihat beritanya di televisi setiap hari.  Pornografi merajalela di mana-mana,  Nilai-nilai dan kaidah agama serta norma kesusilaan di masyarakat mulai ditinggalkan.
Tanggapan:
Benar Bu, saya sepakat. Yang paling nampak di Indonesia adalah merebaknya efek westernisasi berupa fun, food, and fashion tadi. Masyarakat lebih suka mengikuti tren fashion yang tidak menutup aurat, menikmati makanan junkfood ala orang barat yang kehalalan dan kesehatannya kurang terjamin, dan fun seperti musik, film, dan entertainment yang lain yang semakin menjauhkan masyarakat dari syariat islam.
12.  Pertanyaan:
Bagaimana sikap kita seharusnya menyikapi hal tersebut?  Langkah konkret apa yang sebaikanya kita lakukan?
Jawaban:
a.       Yang paling utama kita harus membentengi diri dan generasi penerus melalui peningkatan iman dan taqwa.Sikap sebagai seorang muslim dalam menghadapi kehidupan adalah dengan tetap istiqamah dalam hidayah Allah swt.
b.      Pejabat harus memberikan keteladanan sikap dan pemikiran.
c.       Meningkatkan persatuan dan kesatuan bangsa
d.      Melestarikan nilai-nilai luhur bangsa misalnya gotong royong
Tanggapan:
Benar Bu, saya sepakat. Perlunya filtrasi dalam diri kita, masyarakat kita, dan negara kita sendiri. Meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita juga menjadi hal yang lebih penting, karena sebenarnya keimanan dan ketakwaan itulah yang menjadi filter perang pemikiran yang datang melalui globalisasi.

Senin, 15 Oktober 2012

REFLEKSI 5 KULIAH FILSAFAT ILMU: Memahami Para Dewa


Oleh:
Riza Sativani Hayati, NIM. 12708251080, PPs Pendidikan Sains Kelas D


Perkuliahan kelima Filsafat Ilmu dari Dr. Marsigit adalah mengenai transendensi yang diambil dari “The Critique of Pure Reason” oleh Immanuel Kant. Dr Marsigit menjelaskan melalui logika “Para Dewa”.
Guru adalah dewa bagi siswanya,
Dosen adalah dewa bagi mahasiswanya,
Mahasiswa senior adalah dewa bagi mahasiswa junionya,
Ibu adalah dewa bagi anak-anaknya,
Kita adalah dewa bagi diri kita sendiri,
Bahkan koruptor pun adalah dewa.
Dewa adalah dia yang memiliki dimensi lebih tinggi, meliputi yang ada dan yang mungkin ada, subjek dari semua objeknya. Dewa memiliki bahasa dewa untuk berkomunikasi, itulah yang menyebabkan kita sulit berkomunikasi dengan dewa. Hanya orang-orang tertentu saja yang mampu memahami bahasa dewa. Ibaratnya jika kita adalah seorang guru, kita adalah dewa bagi siswa kita, siswa kita akan susah memahami bahasa kita. Oleh karena itu sangat diperlukan menggunakan bahasa yang tepat untuk siswa kita. Jangan salahkan siswa kita jika mereka tidak faham materi yang kita jelaskan. Introspeksi bahasa yang digunakan guru sangatlah penting. Namun disamping itu salah juga kita jika siswa tidak memahami bahwa kita adalah dewa bagi mereka. Begitu pula dengan koruptor. Koruptor susah untuk ditangkap karena mereka memiliki bahas sendiri yang kita sebagai orang awam belum memahami bahasanya. Oleh karena itu diperlukan orang yang juga dewa untuk menangkapnya, yakni orang yang berilmu, mau berperang tanpa putus asa, dan berdoa sebagai pedangnya.  
Masing-masing dewa harus memiliki kebijakan dalam memandang pengikutnya, begitu pula para pengikut dewa harus memiliki kebijakan dalam memandang dewanya. Berusaha saling memahami bahasa yang digunakan dan bersikap bijak atas apa yang disampaikan. Sehingga tercipta kenyamanan diantara para dewa dan pengikutnya.

Pertanyaan:
1.    Dr Marsigit mengatakan bahwa kita sebagai guru salah jika siswa kita tidak memahami kita sebagai dewa, apakah maksud Bapak kita sebagai guru senantiasa menempatkan diri kita di atas siswa atau sekedar memiliki wibawa di depan siswa saja?
2.    Dari beberapa elegi, Bapak menggunakan kata-kata transenden. Apakah arti transenden itu sebenarnya? Apakah transenden dapat diartikan sebagai penguasa, yang berkuasa atas sesuatu, atau pikiran yang menguasai?

Senin, 08 Oktober 2012

REFLEKSI 4 KULIAH FILSAFAT ILMU: Menggapai Perubahan Diri dan Enggan Menjadi Bayang-Bayang


Disusun Oleh:
Riza Sativani Hayati / NIM . 12708251080/ PPs Pendidikan Sains/Kelas D


Perkuliahan filsafat ilmu yang keempat ini memberikan refleksi dua hal, yakni mengenai berubah dan determinism. Poin yang pertama, yaitu berubah, mengapa Dr Marsigit menyampaikan mengenai pentingnya kita berubah salah satunya adalah karena mahasiswa terlalu meremehkan membaca elegi, bahkan dikatakan bahwa orang yang tidak mau memahami elegi, yang tidak mau mengubah kebiasaannya bagaikan menuju kematiannya (dalam filsafat). Mengapa Dr Marsigit memberikan metode belajar bagi mahasiswa berupa membaca elegi mungkin banyak sekali manfaat yang akan didaptkan jika kita mau memaksimalkan itu, antara lain menambah pemahaman filsafat, manajemen waktu yang baik, mau mendengar pendapat orang lain, mampu berpikir kritis, respect dan up date dengan permasalahan pendidikan Indonesia, dan mengetahui hakekat kita hidup. Mengapa hanya dengan membaca elegi kita bisa memiliki manajemen waktu yang baik? Jelas jawabannya karena kita memiliki lebih dari 300 elegi yang harus kita baca dan berikan komentar selama satu semester. Hal ini membuat kita harus pintar-pintar memenejemen waktu kita. Mengapa hanya dengan membaca elegi kita memiliki sifat mau mendengar pendapat orang lain? Karena dalam elegi Dr Marsigit banyak mengungkapkan pendapat dari Dr. Marsigit yang mungkin belum tentu sesuai dengan pendapat kita, sehingga kita juga mendengarkan dan menerima pendapat mereka. Mengapa hanya dengan membaca elegi kita bisa lebih memahami filsafat, mampu berpikir kritis, respect dan up date dengan permasalahan pendidikan Indonesia, dan mengetahui hakekat kita hidup? Karena dari elegi Dr Marsigit diungkapkan permasalahan, berita up date, dan kondisi pendidikan dan Indonesia dari sudut pandang filsafat dan kita diminta untuk memberikan komentar, sehingga hal ini menuntut kita untuk erfikir kritis. Dari manfaat yang bisa kita dapatkan dari membaca elegi ini, mungkin akan memberikan kita motivasi untuk berubah, berubah mampu mengalahkan keegoisan dan kemalasan diri kita sendiri untuk mau membaca elegi.
Pernahkah kita menjadi bayang-bayang orang lain? Poin kedua yang disampaikan Dr Marsigit adalah mengenai determinasi, determinasi dari kata to determine yakni menjatuhkan sifat kepada orang lain atau objek lain. Determinasi ini ada dua, yakni determinasi positif dan negatif, determinasi positif adalah determinasi yang memberlakukan sifat menjatuhkan sifat positif pada objek, sehingga memiliki dampak positif bagi objek yang dijatuhi sifat tersebut sedangkan determinasi negatif adalah determinasi yang menjatuhkan sifat negatif pada objek sehingga memiliki dampak negatif bagi objek yang dijatuhi sifat tersebut. Di dunia ini, determinasi absolut adalah milik Allah, akan tetapi kita senantiasa menjadi bayang-bayang orang lain. Contoh determinasi negatif yang dekat dengan kita sebagai pendidik misalnya adalah “guru menutupi siswa”. Sebagai  guru seringkali kita menutupi potensi siswa dengan menjatuhkan sifat yang negatif pada anak tersebut, contoh: “kamu siswa nakal, siswa malas, anak kecil” atau bahkan banyak guru yang memberikan perlawanan fisik kepada siswanya. Dengan kita menjatuhkan sifat negative kepada siswa seperti itu akan membuat siswa menjadi negative thinking pada dirinya sendiri, mereka jadi berfikir “aku malas, aku nakal, aku anak kecil”. Guru senantiasa menutupi siswa dengan bayang-bayangnya. Hal ini akan semakin membuat siswa nyaman dengan predikat negative yang dia sematkan sendiri yang asalnya dari determinasi kita. Bahkan Dr Marsigit menjelaskan bahaya determinasi “jika itu determinasi kecil akan merugikan, jika besar akan membunuh”. Lebih bahaya lagi ketika yang dideterminasi tidak menyadarinya. Namun determinasi ini juga dapat dilakukan manakala muncul dari antitesis determinasi objek dengan diri objek tersebut. Seperti yang dicontohkan Dr Marsigit, beliau melakukan determinasi kepada mahasiswa “kamu malas” atau “kamu menuju kematian secara filsafat”, hal ini muncul karena mahasiswa yang memang merasa malas untuk membaca elegi. Namun memang hal ini kurang bijak, oleh karena itu untuk mengurangi dampak determinasai atau solusi mencegah determinasi adalah dengan komunikasi. Komunikasi yang seperti apa yang harus dilakukan? Yakni komunikasi yang terjemah dan menterjemahkan, tidak hanya satu arah dan satu sudut pandang, tapi saling mendengarkan apa yang menjadi maksud masing-masing pihak. Sebenarnya tidak menyalahkan guru pun siswa sudah determin terhadap dirinya sendiri dan sesungguhnya siswa adalah cermin dari gurunya, bahkan guru memiliki dimensi yang lebih tinggi atau wadah lebih luas, oleh karena itu perlu kita memperbaiki diri kita terlebih dahulu.
Lalu bagaimana dengan determinasi positive? Determinasi positive memberikan dampak positive bagi objek yang dijatuhi sifat. Guru akan menjadi lebih bijak jika melakukan determinasi positive terhadap siswanya, misalnya “kamu siswa pintar, cerdas, kritis”. Hal tersebut akan menjadikan siswa positive thinking dan menjudge dirinya pintar, cerdas, dan kritis, sehingga siswa senantiasa termotivasi untuk berusaha menjadi pintar, cerdas, dan berfikir kritis.
Dari refleksi perkuliahan filsafat ilmu keempat ini semoga kita senantiasa termotivasi untuk berubah, semakin ikhlas dalam belajar filsafat melalui memahami elegi dan senantiasa mengurangi determinasi negatif dan meningkatkan determinasi positif, baik determinasi terhadap diri sendiri atau determinasi terhadap orang lain, terutama kepada siswa kita. 

Senin, 01 Oktober 2012

REFLEKSI 3 KULIAH FILSAFAT ILMU: Menelusuri Aliran Filsafat dari Sungai Hingga Lautan Dalam dan Lepas



Disusun Oleh:
Riza Sativani Hayati
(PPs. Pendidikan Sains Kelas D NIM. 12708251080)

Filsafat adalah ilmu yang mengalir, itulah yang disampaikan Bapak Dr Marsigit dalam perkuliahan ketiga. Filsafat mengalir dari pegunungan yang memiliki sungai hingga ke lautan dalam, itulah penggambaran perkembangan filsafat mulai dari ZamanYunani Kuno sampai Zaman Modern atau Power Now. Berikut penggambaran lengkapnya, dari Zaman Yunani Kuno, terdapat dua gunung yaitu Peremidas dan Hevahlite, gunung itu memiliki sungai yang bernama Socrates, dari sungai itu mengalir ke sungai Skepticism dalam gunung Plato yang Idealis dan Aristoteles yang realistis hingga berada pada Abad Gelap. Dari sungai-sungai tersebut, aliran deras terus mengalir menuju sungai besar Rene D yang Rasionalism Analitic dan sungai Empiris. Dari sungai-sunagi besar itu mengalir terus secara deras dan bermuara di lautan dangkal Immanuel Kant yang Synthetic. Dari lautan ini  terdapat endapan berupa delta A Posteriori dan A Priori. Dari lautan dangkal tersebut filsafat terus mengalir ke lautan yang lebih dalam yakni lautan August Comte melewati aliran Neo Pos. Dari lautan tersebut filsafat terus mengalir dan bermuara di lautan dalam dan lepas yakni Contemporer Power Now yang di dalamnya terdapat arus-arus Pragmatism, Utilizism, Capitalism, Humanism, dan Hedonism. Itulah aliran filasafat mulai dari Zaman Yunani hingga Zaman Modern Power Now yang digambarkan mengalir dari aliran sungai di pegunungan hingga lautan dalam dan lepas.
Jika dilihat dari perjalanan aliran filsafat di atas dan beberapa artikel yang telah saya baca, terdapat beberapa tahapan perkembangan filsafat, berikut merupakan ciri-ciri dari masing-masing tahapan:
1.    Filsafat Yunani
a.       Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan adalah seputar pertanyaan hakikat kehidupan
b.      Pertanyaan tentang asal-usul alam (Heraklitos: api, Thales: air)
c.       Pertanyaan asal-usul manusia (Aristoteles, Plato)
d.      Berkembang konsep kebenaran (konsep relativitas: Protagoras, konsep objektivitas: Socrates)
2.    Filsafat Abad Pertengahan
a.       Fisafat abad pertengahan bercampur dengan keyakinan agama
b.      Tuhan dijadikan sebagai pijakan dalam setiap penjelajahan filsafat
c.       Impikasinya terlihat pada kurang berkembangnya rasio
d.      Filsafat yang dikembangkan adalah filsafat ketuhanan
e.       Tokoh-tokoh: Thomas Acquinas dan Santo Agustinus
3.    Filsafat Modern
a.       Sebagai konsekuensi berkembangnya pemikiran manusia, pemikiran manusia mulai merambah ke seluruh aspek kehidupan manusia
b.      Berkembangnya ilmu pengetahuan dengan pesat
c.       Perkembangan ilmu didukung pula oleh revolusi industri di Inggris
d.      Fisuf yang terkenal pada zaman ini: Descrates, John Locke, Immanuel Kant
4.    Filsafat Posmodern
a.       Sebagai reaksi dari berkembangnya pemikiran filsafat modern
b.      Pemikiran posmodern mengkritisi logosentrisme filsafat modern yang berusaha menjadikan rasio sebagai instrumen utama
c.       Filsafat posmodern berkembang dalam dua jalur, yaitu filsafat holistik dan dekonstruksi
Dari perjalanan aliran tersebut sebenarnya terdapat peran dari Fisafat Islam untuk perkembangan aliran filsafat setelah Zaman Yunani Kuno sampai sebelum Zaman Modern. Berikut ini akan saya jabarkan lebih detail mengenail Filsafat Islam dan aliran Filsafat Islam yang muncul dari umat muslim dalam perkembangan aliran filsafat.
Dari hasil membaca suatu artikel di internet, filsafat Islam saya rasa mengambil tempat yang istimewa dalam perkembangan filsafat. Sebab dilihat dari sejarah, para filosof dari tradisi ini sebenarnya bisa dikatakan juga merupakan ahli waris tradisi Filsafat Barat (Yunani). Dari artikl tersebut disebutkan terdapat pendapat mengenai sumbangan peradaban Islam terhadap filsafat dan ilmu pengetahuan yang terus berkembang hingga saat ini. Pendapat tersebut menyatakan bahwa orang Eropa belajar filsafat orang-orang Yunani dari buku-buku filsafat Yunani yang telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Arab oleh filosof Islam seperti Al-Kindi dan Al-Farabi. Dengan demikian filsafat Islam sebagai mata rantai yang menghubungkan Yunani dengan Eropa modern. Kecenderungan ini disebut europosentris yang berpendapat filsafat Islam telah berakhir sejak kematian Ibn Rusyd. Menurut Kartanegara (2006) dalam Filsafat Ilmu dan Metode Riset Normal yang diambil dari www.google.com, dalam Filsafat Islam ada empat aliran yakni:
1.    Peripatetik (memutar atau berkeliling) merujuk kebiasaan Aristoteles yang selalu berjalan-jalan mengelilingi muridnya ketika mengajarkan filsafat. Ciri khas aliran ini secara metodologis atau epistimologis adalah menggunakan logika formal yang berdasarkan penalaran akal (silogisme), serta penekanan yang kuat pada daya-daya rasio. Tokoh-tokohnya yang terkenal yakni: Al Kindi, Al Farabi, Ibnu Sina, Ibn Rusyd, dan Nashir al Din Thusi.
2.    Aliran Iluminasionis (Israqi). Didirikan oleh pemikir Iran, Suhrawardi Al Maqtul. Aliran ini memberikan tempat yang penting bagi metode intuitif (irfani). Menurutnya dunia ini terdiri dari cahaya dan kegelapan. Baginya Tuhan adalah cahaya sebagai satu-satunya realitas sejati (nur al anwar), cahaya di atas cahaya.
3.    Aliran Irfani (Tasawuf). Tasawuf bertumpu pada pengalaman mistis yang bersifat supra-rasional. Jika pengenalan rasional bertumpu pada akal maka pengenalan sufistik bertumpu pada hati. Tokoh yang terkenal adalah Jalaluddin Rumi dan Ibn Arabi.
4.    Aliran Hikmah Muta’aliyyah (Teosofi Transeden). Diwakili oleh seorang filosof syi’ah yakni Muhammad Ibn Ibrahim Yahya Qawami yang dikenal dengan nama Shadr al Din al Syirazi atau yang dikenal dengan Mulla Shadra yaitu seorang filosof yang berhasil mensintesiskan ketiga aliran di atas.
Dalam Islam ilmu merupakan hal yang sangat dianjurkan. Dalam Al Quran kata al-ilm dan kata-kata jadiannya digunakan lebih 780 kali. Hadis juga menyatakan mencari ilmu itu wajib bagi setiap muslim. Dalam suatu pandangan seorang muslim, ilmu yang diwajibkan kepada setiap muslim adalah ilmu yang mengangkat posisi manusia pada hari akhirat, dan mengantarkannya pada pengetahuan tentang dirinya, penciptanya, para nabinya, utusan Allah, pemimpin Islam, sifat Allah, hari akhirat, dan hal-hal yang mendekatkan diri kepada Allah. Dalam pandangan keilmuan Islam, fenomena alam tidaklah berdiri tanpa relasi dan relevansinya dengan kuasa ilahi. Mempelajari alam berarti akan mempelajari dan mengenal dari dekat Allah sebagai penciptanya. Dengan demikian penelitian alam semesta akan mendorong kita untuk mengenal Allah dan menambah keyakinan terhadapnya. Fenomena alam bukanlah realitas-realitas independen melainkan tanda-tanda Allah. Fenomena alam adalah ayat-ayat yang bersifat qauniyyah, sedangkan kitab suci ayat-ayat yang besifat qauliyah. Oleh karena itu ilmu-ilmu agama dan umum menempati posisi yang mulia sebagai obyek ilmu.
Pertanyaan:
1.    Apa perbedaan nyata dari filsafat barat dengan filsafat timur? Apakah filsafat Islam itu masuk ke dalam Filsafat Timur atau berdiri sendiri?

Senin, 24 September 2012

MENGAPA HARUS ADA FILSAFAT ? Filsafat yang Menembus Ruang dan Waktu


Oleh : Riza Sativani Hayati
(PPs Pendidikan Sains Kelas D/NIM. 12708251080)

Pertanyaan “Mengapa harus ada filsafat?” ini muncul dari salah satu teman sekelas saya di selembar kertas refleksi kuliah pertama Filsafat Ilmu oleh Dr. Marsigit. Dari pertanyaan tersebut, Dr. Marsigit di perkuliahan kedua menjawab dengan bahasa filsafatnya yang sedikit “berat” bagi saya, namun saya berusaha memahaminya sedikit.
Ketika kita menanyakan “mengapa harus ada filsafat?”, maka sama dengan kita menanyakan “mengapa fikiran harus ada?” atau “mengapa manusia memiliki kemampuan berfikir?”, karena filsafat adalah olah fikir. Jawabannya bertingkat-tingkat atau berdimensi karena filsafat peka terhadap ruang dan waktu. Dimensi tersebut bisa dari material sampai spiritual. Jika dari spiritual, dari keyakinan kita, fikiran sudah diberikan kepada kita sejak lahir. Namun dari segi filsafatnya sendiri bermacam-macam “hipothetical analitic”, bisa dari antropologi, psikologi, atau sosial. Jadi tergantung kita bagaimana mendefinisikan “how to define?” fikiran. Definisi berfikir bagi anak-anak tentunya berbeda dengan definisi berfikir bagi orang dewasa. Bagi anak-anak, berfikir adalah bekerja atau berbuat, sedangkan bagi orang dewasa berfikir itu lain. Bahkan ada fakta “hatiku mampu berfikir”, itulah pandangan dari orang-orang yang menjadikan fikirannya sebagai raja, mengalahkan posisi hatinya. Jika kita mengeneralisasikan ungkapan tersebut, maka kita juga dapat mengungkapkan bahwa tumbuhan itu mampu berfikir, saat dia bergerak tumbuh mengikuti arah cahaya matahari misalnya. Jika logika kita diturunkan lagi, maka akan sampai pula kita bisa mengungkapkan bahwa batu pun mampu berfikir. Karena ini filsafat, segala kemungkinan pun terus digali, misalnya berfikir kita samakan dengan bercinta, lantas bagaimana tumbuhan hingga batu itu bercinta?. Lalu muncul pemikiran bagaimana hati itu berfikir atau bagaimana hati itu bercinta. Filsafat itu menembus ruang dan waktu, sehingga segala sesuatu yang mungkin dapat digali.
Itulah keajaiban filsafat yang mampu menembus ruang dan waktu, karena keajaiban itu kita perlu filsafat namun juga berhati-hati dalam berfilsafat. Jika kita menanyakan mengapa harus ada filsafat, tentunya karena filsafat memiliki peran penting bagi kemajuan ilmu pengetahuan serta kemampuan filsafat mengubah pola pikir seseorang. Namun jangan sampai karena anggapan segala sesuatu sebagai objek filsafat, baik yang ada dan yang mungkin ada adalah kajian filsafat, lantas kita berfilsafat yang sesat. Sebagai contoh di atas tadi “hatiku mampu berfikir” atau “bagaimana wujud Tuhan?”, itu berarti diri kita lebih mementingkan dan mengikuti fikiran kita daripada hati kita, fikiran telah menjadi raja dalam diri kita. Sungguh sejatinya filsafat itu tetap meletakkan Tuhan dalam hati yang menjadi raja, penguasa diri kita. Wallahu’alam... Semoga Allah senantiasa menuntun hati kita.

Pertanyaan:
1.   Bagaimana peran perkembangan Teknologi Informatika dan Komunikasi terhadap perkembangan filsafat?  

Senin, 17 September 2012

BELAJAR FILSAFAT? WHY NOT? Satu Langkah Belajar Filsafat, Sepuluh Langkah Beribadah


Oleh : Riza Sativani Hayati (12708251080) Pendidikan Sains Kelas D
Diinspirasi dari Perkuliahan Filsafat Ilmu Dr Marsigit 11 September 2012

Pertama kali belajar filsafat adalah saat duduk di bangku S1 semester 3 dalam mata kuliah Filsafat Ilmu. Saat itu, kata “Filsafat” masih sangat asing bagi kita, apalagi terdengar banyak rumor efek negatif kita belajar filsafat, terutama efek atheis setelah belajar filsafat. Ketidaktahuan akan manfaat belajar filsafat ilmu dan cerita-cerita negatif terkait efek belajar filsafat membuat banyak mahasiswa malas belajar filasafat dan berfikiran negatif tentang filsafat. Hasil belajar filsafat ilmu dalam satu semester di bangku perkuliahan S-1 itu pun kandas hampir tak berbekas. Setelah mengikuti perkuliahan Dr. Marsigit di Kelas D Pendidikan Sains 2012 Hari Selasa tanggal 11 September 2012 kemarin nampaknya memberikan secercah harapan, harapan untuk memperbaiki diri dengan belajar filsafat. Dalam perkuliahan tersebut, banyak inspirasi yang didapatkan, setidaknya memotivasi saya untuk belajar filsafat lebih lanjut, terutama filsafat ilmu.
Dr Marsigit menyampaikan bahwa filsafat dapat ditaruh dimana saja, sama dengan dunia. Sebagai contoh: dunia mimpi, filsafat mimpi, artinya filasafat merupakan ilmu penting yang patut dipelajari karena memang filsafat mendasari segala ilmu, awal mula pemikiran untuk mendapatkan ilmu, dan semua ilmu, benda, atau hal di dunia ini tak terlepas dengan yang namanya olah pikir yang disebut “filsafat” itu. Filsafat dapat didefinisikan sebagai apapun.
Ungkapan filsafat dapat didefinisikan sebagai apapun, melandasi seseorang yang akan belajar filsafat harus memiliki adab dalam belajar filsafat. Adab dalam belajar filsafat tersebut antara lain seseorang yang belajar filsafat memiliki kesempatan membangun filasafatnya sendiri, baik mandiri, bersama, ataupun dalam lingkup dunia. Berfilsafat merupakan olah pikir, sehingga berfilsafat memerlukan refleksi pengalaman, maka pikiran orang yang berfilsafat adalah ½ pengalaman dan ½ filsafat. Pengalaman yang dirangkai dengan logika berfikir akan menjadi filsafat.  
Objek filsafat adalah “yang ada” dan “yang mungkin ada”. Sehingga banyak orang yang tidak mempelajari filsafat secara mendalam berfikiran bahwa filsafat adalah ilmu yang menyebabkan “jalan miring”. Manusia memiliki keterbatasan, pengembaraan berfikir juga bersifat terbatas, sehingga perlu kontrol. Terdapat pengkatagorian dalam mempelajari filsafat, dari yang paling bawah ke atas, yakni material, formal, normatif, dan spiritual. Setinggi-tinggi pengetahuan kita, kita tidak akan mampu mengetahui isi hati. Filsafat hanyalah sekedar olah pikir, dapat memikirkan hati (spiritual) akan tetapi terbatas. Oleh karena itu dalam belajar filsafat perlu kontrol dimana kita tidak boleh melampaui normatif atau mencapai pemikiran spiritual. Orang yang atheis setelah belajar filsafat biasanya karena mentang-mentang belajar filsafat, semua hal dia pikirkan, sampai-sampai ketuhanan juga dipikirkan. Dapat disimpulkan bahwa efek belajar filsafat bermacam-macam, tergantung orangnya. Dari pemikiran ini saya memilih untuk mengikuti belajar filsafat ala Dr Marsigit “1 langkah belajar filsafat, 10 langkah beribadah”. Belajar filsafat tidak untuk olah pikir sesuatu yang tidak penting akan tetapi untuk membuka pikiran, memperluas wawasan kita yang mendorong kita untuk menjadi manusia yang lebih baik.

Pertanyaan :
1.    Dalam perkuliahan, Bapak menyampaikan bahwa untuk belajar filsafat, kita perlu goyahkan pikiran kita, kesampingkan rasa bahwa “pikiran kita yang paling benar” atau “saya sudah berfikir dengan benar”. Akan tetapi bagi beberapa orang yang memiliki egoisentris tinggi dan merasa sudah berwawasn luas, hal itu sangat sulit dilakukan. Lalu bagaimana cara mengubah pikiran orang yang seperti itu?
2.    Apakah ilmu teologi (yang mendalami beberapa agama dari banyak sudut pandang) termasuk berfilsafat? Lantas bagaimana dengan orang yang mengkritisi satu agama dengan agama lain? Apakah dalam ilmu filsafat ada batasan tertentu dimana kita boleh berfilsafat atau hanya orang yang mempelajari filsafat yang harus membatasi dirinya sendiri?