Senin, 01 Oktober 2012

REFLEKSI 3 KULIAH FILSAFAT ILMU: Menelusuri Aliran Filsafat dari Sungai Hingga Lautan Dalam dan Lepas



Disusun Oleh:
Riza Sativani Hayati
(PPs. Pendidikan Sains Kelas D NIM. 12708251080)

Filsafat adalah ilmu yang mengalir, itulah yang disampaikan Bapak Dr Marsigit dalam perkuliahan ketiga. Filsafat mengalir dari pegunungan yang memiliki sungai hingga ke lautan dalam, itulah penggambaran perkembangan filsafat mulai dari ZamanYunani Kuno sampai Zaman Modern atau Power Now. Berikut penggambaran lengkapnya, dari Zaman Yunani Kuno, terdapat dua gunung yaitu Peremidas dan Hevahlite, gunung itu memiliki sungai yang bernama Socrates, dari sungai itu mengalir ke sungai Skepticism dalam gunung Plato yang Idealis dan Aristoteles yang realistis hingga berada pada Abad Gelap. Dari sungai-sungai tersebut, aliran deras terus mengalir menuju sungai besar Rene D yang Rasionalism Analitic dan sungai Empiris. Dari sungai-sunagi besar itu mengalir terus secara deras dan bermuara di lautan dangkal Immanuel Kant yang Synthetic. Dari lautan ini  terdapat endapan berupa delta A Posteriori dan A Priori. Dari lautan dangkal tersebut filsafat terus mengalir ke lautan yang lebih dalam yakni lautan August Comte melewati aliran Neo Pos. Dari lautan tersebut filsafat terus mengalir dan bermuara di lautan dalam dan lepas yakni Contemporer Power Now yang di dalamnya terdapat arus-arus Pragmatism, Utilizism, Capitalism, Humanism, dan Hedonism. Itulah aliran filasafat mulai dari Zaman Yunani hingga Zaman Modern Power Now yang digambarkan mengalir dari aliran sungai di pegunungan hingga lautan dalam dan lepas.
Jika dilihat dari perjalanan aliran filsafat di atas dan beberapa artikel yang telah saya baca, terdapat beberapa tahapan perkembangan filsafat, berikut merupakan ciri-ciri dari masing-masing tahapan:
1.    Filsafat Yunani
a.       Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan adalah seputar pertanyaan hakikat kehidupan
b.      Pertanyaan tentang asal-usul alam (Heraklitos: api, Thales: air)
c.       Pertanyaan asal-usul manusia (Aristoteles, Plato)
d.      Berkembang konsep kebenaran (konsep relativitas: Protagoras, konsep objektivitas: Socrates)
2.    Filsafat Abad Pertengahan
a.       Fisafat abad pertengahan bercampur dengan keyakinan agama
b.      Tuhan dijadikan sebagai pijakan dalam setiap penjelajahan filsafat
c.       Impikasinya terlihat pada kurang berkembangnya rasio
d.      Filsafat yang dikembangkan adalah filsafat ketuhanan
e.       Tokoh-tokoh: Thomas Acquinas dan Santo Agustinus
3.    Filsafat Modern
a.       Sebagai konsekuensi berkembangnya pemikiran manusia, pemikiran manusia mulai merambah ke seluruh aspek kehidupan manusia
b.      Berkembangnya ilmu pengetahuan dengan pesat
c.       Perkembangan ilmu didukung pula oleh revolusi industri di Inggris
d.      Fisuf yang terkenal pada zaman ini: Descrates, John Locke, Immanuel Kant
4.    Filsafat Posmodern
a.       Sebagai reaksi dari berkembangnya pemikiran filsafat modern
b.      Pemikiran posmodern mengkritisi logosentrisme filsafat modern yang berusaha menjadikan rasio sebagai instrumen utama
c.       Filsafat posmodern berkembang dalam dua jalur, yaitu filsafat holistik dan dekonstruksi
Dari perjalanan aliran tersebut sebenarnya terdapat peran dari Fisafat Islam untuk perkembangan aliran filsafat setelah Zaman Yunani Kuno sampai sebelum Zaman Modern. Berikut ini akan saya jabarkan lebih detail mengenail Filsafat Islam dan aliran Filsafat Islam yang muncul dari umat muslim dalam perkembangan aliran filsafat.
Dari hasil membaca suatu artikel di internet, filsafat Islam saya rasa mengambil tempat yang istimewa dalam perkembangan filsafat. Sebab dilihat dari sejarah, para filosof dari tradisi ini sebenarnya bisa dikatakan juga merupakan ahli waris tradisi Filsafat Barat (Yunani). Dari artikl tersebut disebutkan terdapat pendapat mengenai sumbangan peradaban Islam terhadap filsafat dan ilmu pengetahuan yang terus berkembang hingga saat ini. Pendapat tersebut menyatakan bahwa orang Eropa belajar filsafat orang-orang Yunani dari buku-buku filsafat Yunani yang telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Arab oleh filosof Islam seperti Al-Kindi dan Al-Farabi. Dengan demikian filsafat Islam sebagai mata rantai yang menghubungkan Yunani dengan Eropa modern. Kecenderungan ini disebut europosentris yang berpendapat filsafat Islam telah berakhir sejak kematian Ibn Rusyd. Menurut Kartanegara (2006) dalam Filsafat Ilmu dan Metode Riset Normal yang diambil dari www.google.com, dalam Filsafat Islam ada empat aliran yakni:
1.    Peripatetik (memutar atau berkeliling) merujuk kebiasaan Aristoteles yang selalu berjalan-jalan mengelilingi muridnya ketika mengajarkan filsafat. Ciri khas aliran ini secara metodologis atau epistimologis adalah menggunakan logika formal yang berdasarkan penalaran akal (silogisme), serta penekanan yang kuat pada daya-daya rasio. Tokoh-tokohnya yang terkenal yakni: Al Kindi, Al Farabi, Ibnu Sina, Ibn Rusyd, dan Nashir al Din Thusi.
2.    Aliran Iluminasionis (Israqi). Didirikan oleh pemikir Iran, Suhrawardi Al Maqtul. Aliran ini memberikan tempat yang penting bagi metode intuitif (irfani). Menurutnya dunia ini terdiri dari cahaya dan kegelapan. Baginya Tuhan adalah cahaya sebagai satu-satunya realitas sejati (nur al anwar), cahaya di atas cahaya.
3.    Aliran Irfani (Tasawuf). Tasawuf bertumpu pada pengalaman mistis yang bersifat supra-rasional. Jika pengenalan rasional bertumpu pada akal maka pengenalan sufistik bertumpu pada hati. Tokoh yang terkenal adalah Jalaluddin Rumi dan Ibn Arabi.
4.    Aliran Hikmah Muta’aliyyah (Teosofi Transeden). Diwakili oleh seorang filosof syi’ah yakni Muhammad Ibn Ibrahim Yahya Qawami yang dikenal dengan nama Shadr al Din al Syirazi atau yang dikenal dengan Mulla Shadra yaitu seorang filosof yang berhasil mensintesiskan ketiga aliran di atas.
Dalam Islam ilmu merupakan hal yang sangat dianjurkan. Dalam Al Quran kata al-ilm dan kata-kata jadiannya digunakan lebih 780 kali. Hadis juga menyatakan mencari ilmu itu wajib bagi setiap muslim. Dalam suatu pandangan seorang muslim, ilmu yang diwajibkan kepada setiap muslim adalah ilmu yang mengangkat posisi manusia pada hari akhirat, dan mengantarkannya pada pengetahuan tentang dirinya, penciptanya, para nabinya, utusan Allah, pemimpin Islam, sifat Allah, hari akhirat, dan hal-hal yang mendekatkan diri kepada Allah. Dalam pandangan keilmuan Islam, fenomena alam tidaklah berdiri tanpa relasi dan relevansinya dengan kuasa ilahi. Mempelajari alam berarti akan mempelajari dan mengenal dari dekat Allah sebagai penciptanya. Dengan demikian penelitian alam semesta akan mendorong kita untuk mengenal Allah dan menambah keyakinan terhadapnya. Fenomena alam bukanlah realitas-realitas independen melainkan tanda-tanda Allah. Fenomena alam adalah ayat-ayat yang bersifat qauniyyah, sedangkan kitab suci ayat-ayat yang besifat qauliyah. Oleh karena itu ilmu-ilmu agama dan umum menempati posisi yang mulia sebagai obyek ilmu.
Pertanyaan:
1.    Apa perbedaan nyata dari filsafat barat dengan filsafat timur? Apakah filsafat Islam itu masuk ke dalam Filsafat Timur atau berdiri sendiri?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Tulis Komentar !!!