Rabu, 14 November 2012

GLOBALISASI SEBAGAI GERBANG PERANG PEMIKIRAN



1.      Pertanyaan:
Di era saat inirakyat Indonesia tidak terlepas dari arus globalisasi, menurut ibu, apa yang dimaksud globalisasi itu dari segi ontology dan aksiologi?
Jawaban :
Kata "globalisasi" diambil dari kata global, yang maknanya ialah universal atau sesuatu yang berkaitan dengan dunia internasional atau seluruh alam jagad raya. Secara ontology globalisasi dapat kita mengerti sebagai meningkatnya hubungan internasional dan saling keterkaitan di antara berbagai belahan dunia melalui terciptanya proses politik,ekonomi, dan perubahan kebudayaandi dunia ini tanpa dibatasi oleh wilayah. Karena globalisasi negara satu dan negara lainnya terjadi saling ketergantungan, membentuk pergaulan internasional dan membentuk satu tatanan kehidupan baru atau kesatuan ko-eksistensi dengan menyingkirkan batas-batas geografis, ekonomi dan budaya masyarakat.  Pengertian yang saya berikan ini mungkin kurang tepat karena globalisasi bersifat multi-dimensional dan tergantung cara pandang masing-masing.Secara aksiologi globalisasi dapat kita lihat dari berbagai dampak positif yang ditimbulkannya.
Tanggapan:
Ya, saya sepakat dengan jawaban Ibu, yang perlu kita tekankan mengenai pengertian globalisasi secara ontologi adalah hilangnya batas antar negara dalam  baik batas geografis, ekonomi dan budaya, sehingga antar satu negara dengan negara lain dapat melakukan transfer budaya dan komunikasi secara langsung tanpa ada batas apapun. Sedangkan secara aksiologi, nah, menurut saya kesalahan kita adalah selalu memandang globalisasi dari segi positifnya saja, jadi kita kurang memberikan alat filtrasi pada arus globalisasi tersebut.
2.      Pertanyaan:
Apa saja dampak positif globalisasi?
Jawaban:
Berbagai manfaat atau dampak positif dari globalisasi adalah:
a.       meningkatnya hubungan antar negara sehingga berpengaruh dalam berbagai bidang
b.      mempermudah arus modal dan barang hasil produksi dari negara lain dan meningkatkan perdagangan internasional sehingga mempermudah setiap orang memenuhi kebutuhan hidup
c.       meningkatnya telekomunikasi berkat ditemukannya telepon genggam dan internet sehingga mempercepat penyebaran informasi
d.      meningkatnya transportasi (mobilitas tinggi) berkat ditemukannya pesawat jet pasca perang dunia II
e.       memberi kenyamanan dalam beraktifitas karena semua telah tersedia dan ini cocok untuk kaum hedonisme
f.       mempercepat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.
g.      menumbuhkan sikap kosmopolitan dan toleran
h.      memacu untuk meningkatkan kualitas diri
i.        bertambah banyaknya event-event berskala global, seperti piala dunia fifa.
j.        berkembangnya proses dan kesadaran  berdemokrasi
Tanggapan:
Bagus Bu, saya sepakat dengan apa yang Ibu sampaikan.
3.      Pertanyaan:
Apa saja dampak negatif globalisasi?
Jawaban:
Berbagai manfaat atau dampak positif dari globalisasi adalah:
a.       Pertumbuhan kapitalisme, yaitu sistem dan paham ekonomi yang modalnya  bersumber dari modal pribadi atau modal perusahaan swasta dengan ciri persaingan dalam pasaran bebas.  Perdagangan bebas menimbulkan hambatan kepada negara berkembang untuk memajukan sektor industri domestik yang lebih cepat  sehingga terjadi ketergantungan kepada industri-industri yang dimiliki perusahaan multinasional.  Investasi asing yang bertambah banyak menyebabkan aliran keuntungan (pendapatan) investasi ke luar negeri semakin meningkat. Sebaliknya, apabila suatu negara tidak mampu bersaing, maka ekspor tidak berkembang. Dalam jangka pendek pertumbuhan ekonomi menjadi tidak stabil. Dalam jangka panjang akan mengurangi lajunya pertumbuhan ekonomi. Pendapatan nasional dan kesempatan kerja akan semakin lambat, timbul masalah pengangguran yang semakin meningkat dan masalah sosial-ekonomi masyarakat semakin bertambah buruk.
b.      komunikasi global terjadi begitu cepat dan pergerakan turisme menyebabkan masuknya berbagai kebudayaan yang kadang-kadang tidak sesuai dengan norma-norma yang berlaku di masyarakat kita sebelumnya
c.       meningkatnya masalah bersama, misalnya pada bidang lingkungan hidup, krisis multinasional, inflasi regional dan lain-lain.
d.      tumbuhnya perilaku konsumtif (konsumerisme), meningkatnya materialism dan hedonism.  Pornografi juga merajalela
e.       arus globalisasi yang menyebabkan demokratisasi di banyak Negara berkembang banyak memunculkan sikap dan tindakan anarkis karena penguasa atau elit politik dianggap sudah tidak lagi memperhatikan nasib dan kepentingan rakyat.  Wawasan kebangsaan semakin terpuruk sehingga menimbulkan disintegrasi bangsa.
Tanggapan:
Benar Bu, saya juga sepakat, ada banyak hal yang perlu kita sadari dari dampak negatif globalisasi tersebut. Perlunya filtrasi bagi arus globalisasi tersebut.
4.      Pertanyaan:
Bagaimana seharusnya kita menyikapi globalisasi tersebut?
Jawaban:
Pada era Power Now sekarang ini, kita tidak bisa menghindar dari globalisasi.  Hal-hal yang baik dan bermanfaat kita pakai saja dan pengaruh negatifnya sebisa mungkin kita reduksi.  Kita harus mempunyai penyaring (filter) untuk menghadapinya agar kita tidak terlindas oleh jaman. Terutama kita harus menyaring berbagai budaya yang tidak sesuai.  Untuk menyaring nilai-nilai negatif maka kita harus berpedoman pada nilai-nilai Pancasila, karena nilai-nilai Pancasila sesuai dengan situasi dan kondisi bangsa Indonesia. Sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa menempatkan spiritual kita di atas segala-galanya dan menjadi komandan di setiap langkah hidup kita. Kita harus menjadi manusia yang cerdas tetapi bernurani dan berjiwa manusiawi.Jika kita mengambil nilai-nilai negatif globalisasi, maka yang akan terjadi adalah kaburnya jati diri bangsa Indonesia dan masuknya kebiasaan-kebiasaan yang buruk.
Tanggapan:
Sepakat Bu, begitu banyaknya dampak positif dan dampak negatif yang ditimbulkan dari globalisasi, sehingga kita harus peka terhadap ruang dan waktu, tahu pada saat apa dan dalam kondisi yang bagaimana kita harus meletakkan filter arus globalisasi tersebut.
5.      Pertanyaan:
Negara barat saat ini tidak lagi banyak menggunakan perang fisik untuk menguasai negara-negara berkembang, mereka lebih kepada perang pemikiran.
Apakah ibu setuju dengan hal tersebut? Alasan?
Jawaban:
Saya tidak setuju sepenuhnya karena perang fisik yang ditunggangi oleh Negara-negara barat masih terjadi. 
Tanggapan:
Benar Bu, akan tetapi saat ini tanpa kita sadari perang pemikiran dari negara barat masuk pada negara-negara berkembang. Perang fisik hanya terjadi pada negara-negara yang tertentu saja, kebanyakan negara timur tengah, seperti Palestine, dan sebagainya. Akan tetapi banyak negara di dunia ini sebenarnya terjajah oleh perang pemikiran yang diluncurkan kaum barat.
6.      Pertanyaan:
Menurut ibu, apakah yang dimaksud perang pemikiran tersebut?
Jawaban:
Sebenarnya saya tidak paham masalah politik dan perang pemikiran menurut saya sudah bernuansa politik.  Perang pemikiran  bisa dianggap sebagai usaha merusak pola pikir dan akhlak melalui system kehidupan dan program-program hiburan yang dikemas dengan menarik
Tanggapan:
Iya, benar Bu, seperti itulah perang pemikiran itu. Jika di dalam Islam, kita lebih mengenalnya dengan Ghozwul Fikr, yaitu penyerangan dengan berbagai cara terhadap pemikiran umat Islam untuk merubah yang ada di dalamnya sehingga tidak bisa mengeluarkan darinya hal-hal yang benar. Perang dengan strategi seperti ini terbukti ampuh untuk menghancurkan umat Islam bila dibandingkan dengan perang secara militer. Kenapa? Kalau musuh-musuh Islam ingin menghancurkan ummat Islam dengan berperang secara militer, mereka akan kalah karena jumlah ummat Islam di dunia sangat banyak. Tapi, metode ghazwul fikr yang mereka lakukan mampu memecahbelah umat Islam sehingga jumlah ummat Islam yang benar-benar tahu dan mencintai Islam berkurang drastis.
7.      Pertanyaan:
Apakah ibu setuju juga dengan globalisasi sebagai salah satu gerbang pembuka jalan menuju peluncuran perang pemikiran?
Jawaban:
Setuju, Globalisasi sering disimbolkan dengan tiga dewa yaitu dewa Mammon (materialisme), Mars (perang/kekerasan) dan Eros (pornografi). 
Sekarang ini materi seolah-olah telah menjadi ukuran segala sesuatu. Dalam masyarakat mammonistik, agama resmi tinggal menjadi formalistik dan seremonistik. Nilai agama telah diganti menjadi nilai Mammon yaitu nilai uang. Maka berkembanglah hedonisme, yang mengagungkan kesenangan dan kenikmatan belaka. Akibatnya, hubungan kemanusiaan tidak lain dari hubungan materi.
Dewa Mars adalah simbol kedua globalisasi.   Dewa Mars globalisasi bukan hanya perangtetapi juga terorisme dan kekerasan yang terjadi di mana-mana.  Bom yang meledak di mana-mana, perampokan, pembunuhan, penculikan dan semua bentuk kekerasan yang seolah sah dan wajar dalam kehidupan manusia masa kini.Kekerasan yang terjadi bukan hanya terhadap sesama manusia tetapi juga terhadap lingkungan hidup sehingga terjadi banjir bandang, longsor, kekeringan dan berbagai kerusakan lingkungan yang berakibat fatal.
Dewi Eros dalam globalisasi melambangkan erotisme (pornografi)yang merusak moral banyak manusia di dunia dengan penggambaran-penggambaran yang tidak sehat dan tidak mendidik. Pemujaan terhadap seks di dunia maya membawa nilai baru dalam hubungan rumah tangga, hubungan laki-laki dan perempuan dan hubungan antar- manusia seolah tanpa penghormatan terhadap gender.
Tanggapan:
Super Bu, saya sepakat dengan Ibu. Globalisasi merupakan salah satu jalan terbaik untuk meluncurkan senjata-senjata perang pemikiran tersebut.
8.      Pertanyaan:
Apa saja peran globalisasi dalam peluncuran perang pemikiran?
Jawaban:
Tentu saja globalisasi menyebabkan perang pemikiran lebih cepat merajalela dan dampaknya lebih luas karena semua hal sekarang dapat diakses dengan mudah.
Tanggapan:
Benar Bu, pemikiran yang mengelabuhi kita itu akan lebih mudah tersebar merajalela menular melalui internet, TV, dan media lain yang juga merupakan jalan masuknya arus globalisasi.
9.      Pertanyaan:
Menurut ibu, apa saja sarana yang digunakan Negara barat untuk meluncurkan perang permikiran tersebut?
Jawaban:
Sarana yang digunakan:
a.       Teknologi, internet dan media audio visual yang menghadirkan berbagai tontonan hedonism
b.      Melalui “kebudayaan internasional” atau “modernisme”, dimotori oleh Eropa dan Amerika yaitu dengan cara mengekspor kebudayaan mereka ke belahan dunia terutama melalui dominasi film-film Hollywood
c.       Kapitalisme internasional yang merobohkan ekonomi lokal dan menawarkan berbagai kemudahan memperoleh barang dan mendorong masyarakat bersifat konsumerisme dan materialisme
Tanggapan:
Benar Bu, menurut artikel yang saya baca,
Tujuanperang pemikiran tersebut antara lain menjauhkan umat Islam dari agamanya, berusaha memasukkan yang sudah kosong Islamnya ke dalam agama kafir, dan memadamkan cahaya agama Allah. Sedangkan metode untuk mencapai tujuan tersebut antara lain dengan pendangkalan/peragu-raguan, pencemaran/pelecehan, penyesatan, dan westernisasi. Westernisasi bisa berupa fun, food, and fashion. Metode ini dilakukan melalui media massa yang berupa media cetak maupun elektronika.
10.  Pertanyaan:
Bagaimana dampak penggunaan sarana tersebut dalam perang pemikiran?
Jawaban:
Dampaknya bisa kita lihat, sangat efektif dan efisien.
Tanggapan:
Iya Bu, memang bisa kita lihat, Hasilnya antara lain umat Islam menyimpang dari Al Qur’an dan sunah, minder dan rendah diri, ikut-ikutan, dan terpecah-belah.
11.  Pertanyaan:
Apakah sudah terlihat dampak perang pemikiran di Indonesia?  Kalau iya apa saja?
Jawaban:
Dampak perang pemikiran tampak jelas di seluruh dunia termasuk Indonesia.  Seperti yang saya sebutkan di atas, kehidupan masyarakat kita mulai bersifat materialism.  Gotong royong mulai hilang.  Terorisme dan kekerasan ada di mana-mana dan bisa kita lihat beritanya di televisi setiap hari.  Pornografi merajalela di mana-mana,  Nilai-nilai dan kaidah agama serta norma kesusilaan di masyarakat mulai ditinggalkan.
Tanggapan:
Benar Bu, saya sepakat. Yang paling nampak di Indonesia adalah merebaknya efek westernisasi berupa fun, food, and fashion tadi. Masyarakat lebih suka mengikuti tren fashion yang tidak menutup aurat, menikmati makanan junkfood ala orang barat yang kehalalan dan kesehatannya kurang terjamin, dan fun seperti musik, film, dan entertainment yang lain yang semakin menjauhkan masyarakat dari syariat islam.
12.  Pertanyaan:
Bagaimana sikap kita seharusnya menyikapi hal tersebut?  Langkah konkret apa yang sebaikanya kita lakukan?
Jawaban:
a.       Yang paling utama kita harus membentengi diri dan generasi penerus melalui peningkatan iman dan taqwa.Sikap sebagai seorang muslim dalam menghadapi kehidupan adalah dengan tetap istiqamah dalam hidayah Allah swt.
b.      Pejabat harus memberikan keteladanan sikap dan pemikiran.
c.       Meningkatkan persatuan dan kesatuan bangsa
d.      Melestarikan nilai-nilai luhur bangsa misalnya gotong royong
Tanggapan:
Benar Bu, saya sepakat. Perlunya filtrasi dalam diri kita, masyarakat kita, dan negara kita sendiri. Meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita juga menjadi hal yang lebih penting, karena sebenarnya keimanan dan ketakwaan itulah yang menjadi filter perang pemikiran yang datang melalui globalisasi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Tulis Komentar !!!