Senin, 08 Oktober 2012

REFLEKSI 4 KULIAH FILSAFAT ILMU: Menggapai Perubahan Diri dan Enggan Menjadi Bayang-Bayang


Disusun Oleh:
Riza Sativani Hayati / NIM . 12708251080/ PPs Pendidikan Sains/Kelas D


Perkuliahan filsafat ilmu yang keempat ini memberikan refleksi dua hal, yakni mengenai berubah dan determinism. Poin yang pertama, yaitu berubah, mengapa Dr Marsigit menyampaikan mengenai pentingnya kita berubah salah satunya adalah karena mahasiswa terlalu meremehkan membaca elegi, bahkan dikatakan bahwa orang yang tidak mau memahami elegi, yang tidak mau mengubah kebiasaannya bagaikan menuju kematiannya (dalam filsafat). Mengapa Dr Marsigit memberikan metode belajar bagi mahasiswa berupa membaca elegi mungkin banyak sekali manfaat yang akan didaptkan jika kita mau memaksimalkan itu, antara lain menambah pemahaman filsafat, manajemen waktu yang baik, mau mendengar pendapat orang lain, mampu berpikir kritis, respect dan up date dengan permasalahan pendidikan Indonesia, dan mengetahui hakekat kita hidup. Mengapa hanya dengan membaca elegi kita bisa memiliki manajemen waktu yang baik? Jelas jawabannya karena kita memiliki lebih dari 300 elegi yang harus kita baca dan berikan komentar selama satu semester. Hal ini membuat kita harus pintar-pintar memenejemen waktu kita. Mengapa hanya dengan membaca elegi kita memiliki sifat mau mendengar pendapat orang lain? Karena dalam elegi Dr Marsigit banyak mengungkapkan pendapat dari Dr. Marsigit yang mungkin belum tentu sesuai dengan pendapat kita, sehingga kita juga mendengarkan dan menerima pendapat mereka. Mengapa hanya dengan membaca elegi kita bisa lebih memahami filsafat, mampu berpikir kritis, respect dan up date dengan permasalahan pendidikan Indonesia, dan mengetahui hakekat kita hidup? Karena dari elegi Dr Marsigit diungkapkan permasalahan, berita up date, dan kondisi pendidikan dan Indonesia dari sudut pandang filsafat dan kita diminta untuk memberikan komentar, sehingga hal ini menuntut kita untuk erfikir kritis. Dari manfaat yang bisa kita dapatkan dari membaca elegi ini, mungkin akan memberikan kita motivasi untuk berubah, berubah mampu mengalahkan keegoisan dan kemalasan diri kita sendiri untuk mau membaca elegi.
Pernahkah kita menjadi bayang-bayang orang lain? Poin kedua yang disampaikan Dr Marsigit adalah mengenai determinasi, determinasi dari kata to determine yakni menjatuhkan sifat kepada orang lain atau objek lain. Determinasi ini ada dua, yakni determinasi positif dan negatif, determinasi positif adalah determinasi yang memberlakukan sifat menjatuhkan sifat positif pada objek, sehingga memiliki dampak positif bagi objek yang dijatuhi sifat tersebut sedangkan determinasi negatif adalah determinasi yang menjatuhkan sifat negatif pada objek sehingga memiliki dampak negatif bagi objek yang dijatuhi sifat tersebut. Di dunia ini, determinasi absolut adalah milik Allah, akan tetapi kita senantiasa menjadi bayang-bayang orang lain. Contoh determinasi negatif yang dekat dengan kita sebagai pendidik misalnya adalah “guru menutupi siswa”. Sebagai  guru seringkali kita menutupi potensi siswa dengan menjatuhkan sifat yang negatif pada anak tersebut, contoh: “kamu siswa nakal, siswa malas, anak kecil” atau bahkan banyak guru yang memberikan perlawanan fisik kepada siswanya. Dengan kita menjatuhkan sifat negative kepada siswa seperti itu akan membuat siswa menjadi negative thinking pada dirinya sendiri, mereka jadi berfikir “aku malas, aku nakal, aku anak kecil”. Guru senantiasa menutupi siswa dengan bayang-bayangnya. Hal ini akan semakin membuat siswa nyaman dengan predikat negative yang dia sematkan sendiri yang asalnya dari determinasi kita. Bahkan Dr Marsigit menjelaskan bahaya determinasi “jika itu determinasi kecil akan merugikan, jika besar akan membunuh”. Lebih bahaya lagi ketika yang dideterminasi tidak menyadarinya. Namun determinasi ini juga dapat dilakukan manakala muncul dari antitesis determinasi objek dengan diri objek tersebut. Seperti yang dicontohkan Dr Marsigit, beliau melakukan determinasi kepada mahasiswa “kamu malas” atau “kamu menuju kematian secara filsafat”, hal ini muncul karena mahasiswa yang memang merasa malas untuk membaca elegi. Namun memang hal ini kurang bijak, oleh karena itu untuk mengurangi dampak determinasai atau solusi mencegah determinasi adalah dengan komunikasi. Komunikasi yang seperti apa yang harus dilakukan? Yakni komunikasi yang terjemah dan menterjemahkan, tidak hanya satu arah dan satu sudut pandang, tapi saling mendengarkan apa yang menjadi maksud masing-masing pihak. Sebenarnya tidak menyalahkan guru pun siswa sudah determin terhadap dirinya sendiri dan sesungguhnya siswa adalah cermin dari gurunya, bahkan guru memiliki dimensi yang lebih tinggi atau wadah lebih luas, oleh karena itu perlu kita memperbaiki diri kita terlebih dahulu.
Lalu bagaimana dengan determinasi positive? Determinasi positive memberikan dampak positive bagi objek yang dijatuhi sifat. Guru akan menjadi lebih bijak jika melakukan determinasi positive terhadap siswanya, misalnya “kamu siswa pintar, cerdas, kritis”. Hal tersebut akan menjadikan siswa positive thinking dan menjudge dirinya pintar, cerdas, dan kritis, sehingga siswa senantiasa termotivasi untuk berusaha menjadi pintar, cerdas, dan berfikir kritis.
Dari refleksi perkuliahan filsafat ilmu keempat ini semoga kita senantiasa termotivasi untuk berubah, semakin ikhlas dalam belajar filsafat melalui memahami elegi dan senantiasa mengurangi determinasi negatif dan meningkatkan determinasi positif, baik determinasi terhadap diri sendiri atau determinasi terhadap orang lain, terutama kepada siswa kita. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Tulis Komentar !!!