Rabu, 23 Januari 2013

REFLEKSI PERTEMUAN KE-16 KULIAH FILSAFAT ILMU: Implementasi Filsafat dalam Pembelajaran Sains



Disusun Oleh:
Riza Sativani Hayati, S.Pd./12708251080/Pendidikan Sains Kons. Biologi Kelas D

Refleksi kuliah Dr. Marsigit kali ini berkaitan dengan soal Ujian Akhir Semester, dimana dalam soal ujian tersebut berkaitan dengan penerapan aliran filsafat, yakni hermeneutika dan fenomenologi dalam pembelajaran sains dan pengembangan intuisi dalam pembelajaran sains. Berikut ini akan dipaparkan secara terpisah mengenai hal tersebut.
Filsafat dapat diletakkan di depan kata apapun, termasuk di depan kata pendidikan, menjadi filsafat pendidikan. Salah satu implementasi filsafat pendidikan adalah dengan mengimplementasikan aliran-aliran filsafat para filsuf ke dalam pembelajaran sains. Banyak aliran filsafat yang dapat diterapkan dalam pendidikan sains, diantaranya adalah hermeneutika dan fenomenologi.
Penerapan Hermeneutika dalam Pembelajaran Sains
Hermeneutika berasal dari kata kerja bahasa Yunani hermeneuein, yang secara umum diterjemahkan “to interpret”, dan kata bendanya hermeneia yang berarti “interpretation”. Hermeneuein dan hermeneia dalam berbagai bentuknyatelah dipakai dalam teks-teks klasik sepertiyang ditulis oleh Aristoteles dalam Peri Hermeneias atau On Interpretation, yaitubahwa kata-kata yang kita ucapkan adalahsimbol dari pengalaman mental kita, dankata-kata yang kita tulis adalah simbol darikata-kata yang kita ucapkan. SelainAristoteles, dua kata tersebut digunakan oleh para penulis atau filosof klasik sepertiPlato, Xenophon, Plutarch, Euripides,Epicurus, Lucretius, dan Longinus (Palmer,1969).
Munculnya istilah hermeneuein atau hermeneia terkait dengan tokoh mitologis, Hermes, yaitu seorang utusan yang mempunyai tugas menyampaikan pesan Jupiter kepada manusia. Misi “memahamkan pesan kepada umat manusia” yang diemban oleh Hermes ini secara implisit berhubungan dengan tiga dasar makna direktif hermeneuein dan hermeneia. Tiga makna direktif ini digunakan untuk tujuan seperti: 1) Mengekspresikan suara dalam kata-kata, atau “mengatakan”.2) Menjelaskan, seperti menjelaskan situasi, dan 3) menerjemahkan, seperti menerjemahkan bahasa asing ke dalam bahasanya sendiri. Ketiga arti ini dapat diekspresikan dengan kata “to interpret” atau“menafsirkan” (Sembodo Ardi Widodo, 2008). Dengan kata lain, hermeneutika dapat diartikan dengan terjemah menterjemahkan.
Hermeneutika dapat diaplikasikan dalam pembelajaran sains, yakni dalam interaksi pembelajaran sains. Secara hakekat, belajar adalah proses peningkatan kemampuan baik di ranah kognitif, afektif dan juga ranah keterampilan melalui aktivitas interaksi antarelemen pembelajaran. Elemen pembelajaran ada tiga, yakni guru, siswa dan media atau sumber belajar. Apabila terjadi interaksi yang sempurna antara ketiganya, maka itulah yang disebut dengan pembelajaran aktif. Tanpa adanya interaksi, maka tidak akan ada proses belajar.
Pembelajaran yang sempurna setidaknya memiliki lima tipe interaksi yang intensif, yakni:
a.    Interaksi antara guru dan siswa
b.    Interaksi antara individu siswa dengan individu siswa yang lain
c.    Interaksi antara siswa langsung dengan media dan sumber belajarnya
d.   Interaksi antara individu siswa dengan kelompoknya
e.    Interaksi antara kelompok dengan kelompok lain
Apabila pembelajaran aktif dapat berlangsung dengan baik, maka guru harus memastikan bahwa kelima interaksi tersebut harus benar-benar terlaksana semua. Interaksi yang terbangun harus benar-benar berada dalam lingkup kegiatan belajar yang bermakna, maka membangun ragam interaksi ini harus dengan metode pembelajaran yang tepat. Interaksi ini sangat erat kaitannya dengan metode pembelajaran, sebab interaksi ini hanya bisa muncul bila guru memfasilitasinya dengan suatu metode pembelajaran. Sehingga semakin banyak guru menggunakan metode pembelajaran, maka dalam sesi tersebut akan semakin banyak membangun interaksi antarelemen pembelajaran (Agung Pardini, 2011).
Saling terjemah menterjemahkan harus dilakukan dalam interaksi pembelajaran sains. Sebagai contoh, dalam pembelajaran topik keanekaragaman hayati, guru harus menerapkan metode pembelajaran yang mampu memunculkan interaksi guru dan siswa, interaksi antara individu siswa dengan individu siswa yang lain, interaksi antara siswa langsung dengan sumber belajarnya, yaitu alam semesta yang mengandung keanekaragaman hayati di dalamnya, interaksi antara individu siswa dengan kelompoknya, dan interaksi antara kelompok dengan kelompok lain. Salah satu metode pembelajaran yang mampu memunculkan interaksi tersebut adalah discovery learning.
Dengan metode discovery learning, siswa dapat bekerja dalam kelompok untuk melakukan eksplorasi di alam untuk menemukan konsep keanekaragaman hayati,dengan demikian interaksi akan miuncul dalam proses pembelajaran sains. Guru hanuya sebagai fasilitator, akan tetapi interaksi antara guru dan siswa tetap muncul melalui kegiatan konfirmasi hasil belajar siswa. Guru dapat memberikan LKS kepada siswa untuk mtemadu siswa berinteraksi dengan sumber belajar atau media belajar. Kegiatan eksplorasi berkelompok memungkinkan siswa berinteraksi dengan siswa lain dalam satu kelompok dan kelompok berinteraksi dengan kelompok. Dengan demikian semua interaksi pembelajaran dapat dimunculkan dalam pembelajaran sains dengan penerapan metode pembelajaran yang tepat, sesuai dengan topik pembelajaran, meminimalisasi teacher centre dan mengoptimalkan student centre.   
Jadi dapat disimpulkan bahwa dalam mengelola interaksi belajar mengajar guru harus memiliki kemampuan mendesain program, menguasai materi pelajaran, mampu menciptakan kondisi kelas yang kondusif, terampil memanfaatkan media dan memilih sumber, memahami cara atau metode yang digunakan, memiliki keterampilan mengkomunikasikan program serta memahami landasan-landasan pendidikan sebagai dasar bertindak.
Penerapan Fenomenologi dalam Pembelajaran Sains
Fenomenologi adalah ilmu yang berorientasi untuk mendapatkan penjelasan tentang realitas yang tampak. Fenomenologi memanfaatkan pengalaman intuitif atas fenomena, sesuatu yang hadir dalam refleksi fenomenologis, sebagai titik awal dan usaha untuk mendapatkan fitur – hakekat dari pengalaman dan hakekat dari apa yang kita alami. Fenomenologi memanfaatkan pengalaman intuitif atas fenomena, sesuatu yang hadir dalam refleksi fenomenologis, sebagai titik awal dan usaha untuk mendapatkan fitur-hakekat dari pengalaman dan hakekat dari apa yang kita alami. Fenomena yang tampak adalah refleksi dari realitas yang tidak berdiri sendiri karena ia memiliki makna yang memerlukan penafsiran lebih lanjut.
Fenomenologi berasal dari bahasa yunani “phainomenon” yang berarti gejala dan “logos” yang berarti perkataan, ajaran. Fenomenologi mengandung beberapa perngetian:
a.    Arti luas, ilmu tentang fenomen – fenomen atau apa saja yang tampak. Dalam hal ini fenomenologi merupakan sebuah pendekatan filsafat yang berpusat pada analisis terhadap gejala yang membanjiri kesadaran manusia.
b.    Arti sempit, ilmu tentang gejala yang menampakkan diri pada kesadaran kita.
Tokoh-tokoh fenomenologi antara lain Emmanuel Kant, Edmund Husserl, Fenomenologi Alfred Shutz, Peter L. Berger, Harry Hamersma, Emilio Betti, Merlu-Ponty, dan lain sebagainya.
Istilah lain yang digunakan oleh Husserl adalah epoche, yang artinya melupakan pengertian-pengertian tentang obyek untuk sementara dan berusaha melihat obyek secara langsung dengan intuisi tanpa bantuan pengertian-pengertian yang ada sebelumnya.
Pada pembelajaran sains sendiri, beberapa objeknya ideal dan sempurna, maka untuk memperolehnya di dalam kehidupan nyata diperlukan idealisasi yaitu menjadikan objek riil dalam kehidupan sebagai sesuatu yang ideal atau sempurna, yang kedua yaitu abstraksi yaitu mengambil sifat-sifat pada objek di dalam kehidupan nyata yang sesuai dengan objek sains, sedangkan sifat-sifat/ karakteristik yang tidak sesuai dan tidak diperlukan ditinggalkan. Karakteristik atau sifat-sifat yang tidak diperlukan dan diabaikan tersebut akan di tempatkan pada rumah epoche di dalam otak. Misalnya ketika melihat banyak bunga di kebun bunga sebagai fenomena. Maka karakteristik bunga sebagai objek sains adalah struktur dan fungsi bunga, bukan banyak bunga yang ada di taman. Banyak bunga yang ada di taman  tersebut akan diabaikan dan di tempatkan pada rumah epoche, sedangkan struktur dan fungsi organ bunga akan menjadi konsep di dalam otak melalui abstraksi atau idealisasi.
Dalam phenomenology, idealisasi dan abstraksi tidak akan penah lepas dari cara mendapatkan objek sains pada kehidupan konkret karena pada dasarnya tidak ada objek di dalam kehidupan yang ideal sebagai objek sains. Untuk mendapatkan objek-objek tersebut dan memahami sains secara konkret di perlukan tidak hanya teori tetapi juga praktik.
Namun ketika melihat proses belajar dan mengajar sains di Indonesia terlihat jelas bahwa masih banyaknya guru yang tidak mengarahkan siswa pada kegiatan praktik, melainkan hanya teori dengan metode penyampaian eksposisi. Hal tersebut akan menghambat siswa dalam memehami sains. Sehingga diperlukannya sebuah langkah baru untuk menciptakan pendidikan sains yang lebih baik melalui innovative learning, di mana siswa tidak hanya mempelajari teori tetepi juga mereka terjun langsung menghadapi permasalahan konkret dengan investigasi, diskusi, dan sedikit penjelasan dari guru.
Praktik  langsung adalah cara yang lebih menyenangkan dan mudah dipahami siswa karena mereka mengalaminya langsung. Sehingga mereka akan mengetahui asal-usul dan cara pemecahan masalah sains. Sains itu sendiri tidak hanya berkutat dengan pemecahan maslah atau problem solving tetapi juga dengan problem posing yaitu menyikapi permasalahan.
Pengembangan Intuisi dalam Pembelajaran Sains
Intuisi atau yang disebut firasat, gut instinct, inner voice, hunch, dan natural feelingmerupakan proses bawah sadar yang lebih dikendalikan oleh otak kanan meliputi akumulasi pengetahuan, pengalaman, pembelajaran dari kreativitas dan berpikir rasional, sehingga membentuk petunjuk naluriah berupa imaginasi pola kejadian dan keyakinan. Dengan demikian, menuntun yang berangkutan untuk mengambil keputusan dalam tuntutan waktu yang cepat.
Intuisi didefinisikan sebagai kemampuan nyata untuk memperoleh pengetahuan tanpa menggunakan inferensi atau penalaran (apparent ability to acquire knowledge without inference or the use of reason). Dalam kamus ini juga dinyatakan bahwa kata intuisi (intuition) berasal dari bahasa latin intueri, yang dimaknai sebagaimelihat ke dalam atau merenungkan. Intuisi memberikan kepercayaan bahwa kita tidak perlu memberi justifikasi/pembenaran atas suatu hasil intuisi.
Salah satu bentuk pembelajaran yang dapat mengembangkan intuisi anak adalah pembelajaran dengan teori belajar konstruktivisme. Konstruktivisme merupakan pembelajaran yang menjadikan siswa sebagai pusat (student centered). Siswa diberikan kesempatan untuk membangun pengetahuannya sendiri, sedangkan guru berperan sebagai mediator dan fasilitator.
Konstruktivisme menyatakan bahwa semua pengetahuan yang kita peroleh adalah hasil konstruksi kita sendiri, maka sangat kecil kemungkinan adanya transfer pengetahuan dari seseorang kepada yang lain. Setiap orang membangun pengetahuannya sendiri, sehingga transfer pengetahuan (seperti menumpahklan air ke ember kosong ) adalah sangatlah mustahil terjadi.Pengetahuan bukanlah suatu barang yang dapat ditransfer dari orang yang mempunyai pengetahuan kepada orang yang belum mempunyai pengetahuan. Bahkan, bila seorang guru bermaksud mentransferkan konsep, ide, dan pengertiannya kepada siswa, pemindahan itu harus diinterpretasikan, ditransformasikan, dan dikonstruksikan oleh siswa lewat pengalamannya. Banyaknya siswa yang salah menangkap apa yang diajarkan oleh guru (misconception)   menunjukkan bahwa pengetahuan kita tidak dapat begitu saja  dipindahkan melainkan harus dikonstruksikan atau paling sedikit diinterpretasikan dan ditransformasikan  sendiri oleh siswa.
Bagi konstruktivisme, pembelajaran bukanlah kegiatan memindahkan pengetahuan (transfer of knowledge) dari pendidik ke peserta didik, melainkan kegiatan yang memungkinkan peserta didik  membangun sendiri pengetahuannya (belajar sendiri). Pengetahuan dan pengertian dikonstruksi peserta didik  bila ia terlibat secara sosial dalam dialog, dan aktif dalam percobaan dan pengalaman. Pembentukan makna dapat diperoleh dari dialog antar pribadi dalam suatu kelompok. Dalam kelompok belajar, peserta didik  dapat mengungkapkan perspektifnya dalam melihat persoalan dan hal lain yang akan dilakukan dengan persoalan itu. Melalui kesempatan mengemukakan gagasan, mendengarkan pendapat orang lain, serta bersama-sama membangun pengertian akan menjadi sangat penting dalam belajar, karena memiliki unsur yang berguna untuk menantang pemikiran dan meningkatkan kepercayaan seseorang.
Intuisi itu sendiri adalah kemampuan nyata untuk memperoleh pengetahuan tanpa menggunakan interferensi atau penalaran. Intuisi tidak membutuhkan jastifikasi atau pembenaran atas hasilnya. Intuisi pada hakekatnya sudah dimiliki oleh masing-masing individu sejak mereka dilahirkan. Begitu juga halnya pada siswa, siswa telah memiliki intuisi sebelumnya dan mereka menggunakan informasi yang ada dan dibutuhkan sebelum mencoba memecahkan suatu masalah. Intuisi diterima sebagai feeling individu yang tidak membutuhkan pembuktian lebih lanjut, yang perlu dilakukan adalah mengembangkan intuisi yang telah ada. Intuisi akan muncul selama individu memiliki keinginan untuk melakukan sesuatu. Begitu juga halnya dalam pembelajaran sains, intuisi siswa akan muncul selama berusaha keras untuk memahami dan memecahkan suatu masalah (materi). Intuisi juga berelasi erat dengan keyakinan, seseorang yang memiliki keyakinan kuat akan sesuatu, berarti intuisinya terhadap hal tersebut juga kuat.
Intuisi dapat dikembangkan melalui proses pembelajaran konstruktivisme. Siswa membangun pengetahuan yang telah dimilikinya sebelumnya melalui aktivitas-aktivitas pembelajaran yang dilakukannya seperti bertanya, berdiskusi, mengemukakan pendapat, dan lain-lain. Melalui aktivitas membangun pengetahuan inilah intuisi siswa akan berkembang dan dapat tumbuh dengan pesat. Prinsip-prinsip dasar pembelajaran konstruktivisme yaitu menuntut siswa untuk aktif dalam mengkonstruksi dan menalar pengetahuannya sendiri. Walaupun intuisi adalah kemampuan kognisi yang tidak membutuhkan penalaran, tetapi jika didalam pembelajaran siswa memiliki kemampuan penalaran yang baik maka intuisinya akan berkembang dengan baik pula.
Pembelajaran konstruktivisme juga bisa dilakukan secara berkelompok. Siswa menjadi terlatih untuk bersosialisasi, lebih mengerti akan perbedaan dan kemampuan kerjasama. Seorang pendidik harus bisa mengerti akan keberagaman karakteristik para siswanya. Setiap siswa mempunyai caranya sendiri untuk mengkonstruksikan pengetahuannya. Belajar secara berkelompok akan memudahkan siswa untuk mengkonstruksi pengetahuannya melalui keaktifannya dalam diskusi dan dialog kelompok. Melalui keterlibatan secara aktif dalam pembelajaran, siswa akan lebih terasah pemikirannya dan kepercayaan dirinya pun akan meningkat.

 Intuisi dapat berkembang dari suatu pengalaman. Pengalaman belajar yang bermakna dapat mengembangkan intuisi. Pembelajaran sains yang bemakna harus dapat menyajikan suatu pemahaman pada konsep-konsep dan pemecahan masalah serta mengasah kemampuan siswa baik dalam hal kognitif maupun afektif. Pengalaman untuk membangun pengetahuan baru dalam pembelajaran konstruktivisme dapat diperoleh siswa melalui aktif dalam merestruktur pengetahuan tersebut.


DAFTAR PUSTAKA

Agung Pardini. 2011. Interaksi Multiarah dalam Pembelajaran Aktif. Diambil dari http://sahabatguru.wordpress.com/pada 15 Januari 2013.

Juhaya S. Praja. 2005. Aliran-aliran Filsafat dan Etika. Jakarta: Prenada Media.

K. Bertens. 1981. Filsafat Barat dalam Abad XX. Jakarta: PT. Gramedia.

Marsigit.2010. The Iceberg Approach of Learning Fractions in Junior High School: Teachers’ Simulations of Prior to Lesson Study Activities

Rohmad Widiyanto.Fenomenologi  Husserl dan Kaitannya dengan Telaah Ilmu Kependidikan di Indonesia. Diambil dari http://rohmadwidy.word press.com/2012/03/pada 15 Januari 2013.

Sembodo Ardi Widodo. 2008. Metode Hermeneutik dalam Pendidikan. Jurnal UNISIA, Vol. XXXI No. 70 Desember 2008Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga






Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Tulis Komentar !!!