Senin, 09 Agustus 2010

Upaya Mengurangi Peningkatan Penderita AIDS di Kalangan Remaja


Kondisi yang  kita hadapi bersama saat ini adalah dunia globalisasi dimana tidak ada lagi batas-batas antar negara  dan multibudaya, multietnis dan multiras. Sebagai akibatnya, masuknya budaya asing terutama budaya barat ke Indonesia adalah suatu hal yang biasa dan menjadi hal yang tidak bisa terelakkan. Kurangnya filter dari masyarakat mengakibatkan budaya ketimuran kita yang menjunjung tinggi norma-norma kesusilaan semakin lama semakin luntur dengan masuknya budaya barat yang begitu mengagungkan kebebasan. Ini memberikan andil besar terhadap masalah-masalah sosial masyarakat kita saat ini terutama mengenai peningkatan penderita HIV /AIDS di kalangan pemuda Indonesia.
AIDS (Acquired Immuno Deficiency Syndrome) adalah kumpulan gejala penyakit yang timbul akibat menurunnya kekebalan tubuh. Berkurangnya kekebalan tubuh itu sendiri disebabkan virus HIV (Human Immunodeficiency Virus). Penularan HIV terjadi apabila ada pencampuran cairan tubuh ( darah dan air mani ) yang mengandung HIV. Ini dapat melalui hubungan seks dengan pasangan yang mengidap HIV, penggunaan jarum suntik dan alat-alat penusuk (tato, tindik dan cukur) yang tercemar HIV, transfusi darah atau produk darah yang mengandung HIV dan ibu hamil yang mengidap HIV kepada janin atau bayinya.Inilah mengapa remaja yang tergila-gila dengan budaya barat sangat rentan dengan HIV/AIDS.
            Perkembangan ODHA di Indonesia kian lama semakin memuncak. Nafsiah Mboi, Sekretaris Komis Penanggulan AIDS (KPA) Nasional, menyatakan sampai akhir September 2007 Departemen Kesehatan melaporkan penambahan pasien AIDS secara kumulatif dari 2.190 orang menjadi 10.384 orang. "Informasi ini masih mengkonfirmasi tingginya laju pertambahan jumlah infeksi baru, di mana Indonesia sekarang tercatat sebagai negara dengan epidemi AIDS tercepat di Asia, remaja berusia 15-24 tahun merupakan populasi masyarakat paling berisiko terinfeksi HIV. Berdasarkan perkiraan jumlah populasi rawan terinfeksi HIV tahun 2006, 52% korban infeksi HIV akibat penggunaan narkotika suntik, 45% PSK, dan 31% terjadi pada waria dan homo seksual. Di tahun 2007 jumlah korban infeksi baru HIV terbesar pada kelompok usia 15-19 tahun." tukasnya. Selain itu DKI Jakarta, Bali, Papua, Jawa Timur, Sumatera Utara, Riau, Jawa Barat, Jawa Tengah, Riau, dan Kalimantan barat  merupakan provinsi dengan angka estimasi kelompok risiko tinggi tertular HIV tertinggi.
            Akan lebih baik bila keprihatinan ini disikapi secara dewasa dengan hal-hal yang positif serta diharapkan dapat mengurangi peningkatan penderita HIV/AIDS terutama kalangan remaja Indonesia. Semua lapisan masyarakat hendaknya ikut berpartisipasi dalam upaya ini, baik dari pihak remaja sendiri, orang tua, dinas kesehatan atau lembaga kesehatan yang bersangkutan, lembaga pendidikan, organisasi-organisasi pelajar, LSM maupun masyarakar secara luas. Tanpa partisipasi seluruh pihak, pastinya hasil yang didapat tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Upaya ini pun harusnya dilakukan secara rutin dan berkesinambungan dengan membangun lingkungan yang sesuai dengan kondisi remaja yang sedang dalam tahap pencarian jati diri.
            Dari diri remaja sendiri hendaknya mempunyai kesadaran bahwa  ia adalah sosok generasi muda yang mempunyai kewajiban melanjutkan nasib bangsa Indonesia. Dengan adanya kesadaran ini tentunya pemuda Indonesia tidak akan menyia-nyiakan waktu mudanya dengan hal-hal yang negatif, bahkan ia akan lebih memperhatikan pendidikannya. Selain itu remaja yang berjiwa pemuda harus dapat berfikir matang dan mempunyai pendirian yang kuat agar tidak menjadi egois dan memikirkan kebahagian dan kenikmatan individual saja. Remaja harus mampu memnbedakan mana yang baik dan mana yang buruk, berusaha untuk tidak terpengaruh oleh hal-hal yang negatif. Untuk dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, remaja harus meninfgkatkan iman dan takwanya terhadap Tuhan, karena ini adalah salah satu senjata ampuh yang dapat digunakan untuk memfilter hal-hal negatif dari lingkungannya. Dfengan adanya filter tersebut, remaja tidak akan mudah menjadikan budaya barat sebagai trend yang harus diikuti.
            Dari pihak orang tua sebaiknya yang harus dilakukan adalah menjadi orang tua yang peduli terhadap anaknya. Peduli bukan berarti harus selalu protektif terhadap tingkah laku si anak, namun memberikan apa yang terbaik untuknya dan sesuai dengan kebutuhannya. Orang tua hendaknya menjadi pendengar yang baik, penuh perhatian, bijaksana dalam membuat keputusan, mampu berdiskusi dengan baik dan memberi respons yang konstruktif, dan yang paling penting adalah sebagai teladan dalam perilaku.

            Dalam upaya mengurangi peniungkatan jumlah ODHA pada remaja diperlukan sekali adanya partisipasi dari Dinas Kesehatan atau Ormas Kesehatan yang lainnya. Dengan partisipasi mereka tentunya para ODHA mendapatkan perhatian lebih. Dengan adanya perhatian dalam perawatan ODHA dapat menjaga sikap agar tidak menularkannya kepada orang lain.  Partisipasi dari organisasi kesehatan dapat berupa penyuluhan  kesehatan reproduksi kepada remaja, pembentukan peer group, pengefektifan PKPR ( Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja ) yang sudah berlangsung namun dirasa kurang efektif,  serta peningkatan pelayanan kesehatan kepada ODHA. Pihak dinas kesehatan sendiri harus meningkatkan penanganan ODHA, terutama di daerah Papua yang saat ini masih minim sekali dalam memberikan pelayanan kesehatan, terutama untuk masalah ODHA. Padahal setiap tahunnya ODHA di Papua semakin meningkat drastis.
            Dalam upaya ini diperlukan serta partisipasi dari lembaga pendidikan terutama sekolah dan universitas. Disamping memberikan peraturan peraturan yang menyangkut dengan Narkoba, Free sex, dan lain-lain, Sekolah maupun universitas harus mampu memberikan suasana dan kegiatan yang mendukung upaya ini. Sebagai contoh, ”Sejumlah sekolah menengah umum di Bali telah melakukan pendidikan tentang mencegah HIV/AIDS dan narkoba kepada para siswanya. Materi pendidikan diintegrasikan ke dalam mata pelajaran yang sesuai maupun lewat kegiatan luar sekolah, Sementara, kegiatan remaja di luar sekolah dilakukan melalui pelatihan dan pembentukan penyuluh sebaya 'Sekaa Teruna'”,kata Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, Tuti Parwati Merati. Selain itu hendaknya setiap sekolah dan universitas mengadakan sosialisasi tentang keseharan reproduksi, Narkoba dan Freee Sex serta efek dari hal tersebut. Dan di setiap sekolah menengah umum mempunyai siswa yang menjadi anggota PKPR, ini ditujukan untuk membantu siswa lain dalam masalah keremajaan,terutama tentang kesehatan remaja.
            Peran serta organisasi-organisasi pelajar maupun LSM juga diperlukan. Mereka dapat melakukan gerakan-gerakan sosial. Gerakan-gerakan sosial tersebut dapat berupa peringatan hari AIDS dengan kegiatan-kegiatan yang menyerukan kepada generasi muda akan bahaya HIV/AIDS.Kegiatan itu dapat berupa pembuatan artikel atau majalah dinding bertemakan HIV/AIDS, aksi turun jalan yang menyeru kepada generasi muda untuk peduli akan HIV/AIDS. Selain itu mereka dapat berpartisipasi dan memberikan dukungan atau sponsor untuk kegiatan-kegiatan bertemakan kesehatan remaja, terutama HIV/AIDS.
            Peran yang tidak kalah penting lagi adalah dari masyarakat terutama para remaja. Mereka harus mewaspadai adanya ancaman HIV/AIDS. Mereka harus mengerti dan memahami tentang kesehatan reproduksi terutama mengenai pencegahan HIV/AIDS. Mereka harus mengerti formula ABC untuk pencegahan HIV/AIDS yaitu A (Abstinence): Absen Seks atau tidak melakukan hubungan seks. B (Be Faithful): Bersikap setia pada 1 pasangan seks untuk yang sudah melakukannya, tidak berganti-ganti. C (Condom): menggunakan kondom untuk yang sudah melakukan hubungan seks.
D (Drugs No): Dilarang menggunakan narkoba dan sejenisnya. Di antara pengguna narkoba suntik dilarang menggunakan jarum suntik yang tidak steril secara berganti-gantian.
            Disamping melakukan pencegahan, masyarakat terutama remaja tidak boleh terlalu menjauhi ODHA, yang harus dijauhi adalah virusnya, bukan manusia yang terkena virus itu. Masyarakat perlu tahu bahwa HIV hanya bisa menular lewat cairan tubuh ( darah dan air mani ) saja. Jadi tidak menular lewat bersentuhan, bersalaman, alat makan dan alat mandi yang digunakan bersama-sama. Selain itu pengucilan ODHA hanya akan membawa dampak buruk baginya, karena selain dia harus menanggung beban sakitnya, dia juga harus menanggung pengucilan yang menimbulkan rasa iri dari ODHA. Rasa iri itu malah yang akan menghambat upaya mengurangi peningkatan penderita AIDS di kalangan generasi muda. Ini dibuktikan dengan adanya isu  bahwa telah marak adanya jarum suntik HIV yang diletakkan di kursi-kursi bioskop karena ulah ODHA yang terlalu dikucilkan oleh masyarakat.
             Adanya dukungan dari masayarakat luas khususnya remaja untuk membentuk masyarakat yang religius, cinta damai, cinta pendidikan dan bermartabat menjadi salah satu program yang harus segera diterapkan. Misalnya saja dengan strategi berbasis keagamaan salah satunya melalui pendekatan spritual serta penyembuhan melalui jalan terapi dzikir dalam penanggulangan penyalahgunaan narkoba di tengah masyarakat, di samping pelaksanaan kebijakan bersama yang sinergis antara pemerintah, lembaga pendidikan serta lembaga swadaya masyarakat dalam memutus mata rantai penyebaran
narkoba. Kegiatan ini dinilai efektif oleh Kepala Badan Narkotika Nasional, Komjen I Made Magku Pastika sebab mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam. Adapun bagi remaja yang telah menggunakan diperlukan layanan yang terpadu untuk membawa mereka kembali ke tengah masyarakat.

            Upaya mengurangi peningkatan penderita AIDS di kalangan generasi muda tidak akan membuahkan hasil yang memuaskan apabila semua lapisan masyarakat tidak ikut berpartisipasi dalam upaya ini. Baik dari pihak remaja sendiri, orang tua, dinas kesehatan atau lembaga kesehatan yang bersangkutan, lembaga pendidikan, organisasi-organisasi pelajar, LSM, pemuka agama, maupun masyarakar secara luas harus mampu berjalan beriringan saling menggandeng tangan dan mendukung upaya ini.   
             Kini diupayakan membentuk kader desa peduli AIDS (KDPA), selain lebih mengintensifkan program komunikasi informasi dan edukasi (KIE).Program lain yang tidak kalah pentingnya adalah menyasar orang dengan HIV/AIDS (ODHA), yang disertai dengan perawatan, dukungan, dan pengobatan dengan harapan mampu memberdayakan ODHA. Kelompok tersebut sekaligus merupakan tempat saling membantu dan bertukar pengalaman mengenai kesehatan, manfaat pengobatan, dan efek sampingan obat-obatan. Lewat pembinaan tersebut menjadikan kelompok tersebut mampu berperan dalam advokasi penanggulangan HIV/AIDS” kata Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, Tuti Parwati Merati

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Tulis Komentar !!!