Minggu, 18 April 2010

PANTAI PASIR DAN MEIOFAUNA


Pada umumnya pantai berpasir lebih banyak dikenal oleh manusia dibanding dengan jenis pantai yang lain. Hal ini dikarenakan pantai berpasir memiliki manfaat yang sangat banyak dibanding dengan pantai jenis yang lainnya. Pantai berpasir adalah pantai dengan ukuran substrat 0.002-2 mm. Jenis pantai berpasir termasuk dalam jenis pantai dengan partikel yang halus. Sama halnya pada pantai berbatu, pada pantai berpasir juga dibagi dalam beberapa zonasi, yaitu:
1.    Mean High Water of Spring Tides (MHWS) rata-rata air tinggi pada pasang purnama.
Zona ini berada pada bagian paling atas. Pada daerah ini berbatasan langsung dengan daerah yang kering dan sering terekspose.
 2.    Mean Tide Level (MLS) rata-rata level pasang surut.
Zona ini merupakan daerah yang paling banyak mengalami fluktusi pasang surut. Pada daerah ini juga dapat ditemukan berbagai ekosistem salah satunya ekosistem padang lamun.
3.    Mean Water Low of Spring Tides (MLWS) rata-rata air rendah pada pasang surut purnama.
Zona ini merupakan zona yang paling bawah. Pada daerah ini fliktuasi pasang surut sangat sedikit yang berpengaruh karena daerah ini tidak terkena fluktuasi tersebut. Daerah ini juga bias ditemukan ekosistem terumbu karang.
Menurut Nybakken (1992) zonasi yang terbentuk pada pantai berpasir sangat dipengaruhi oleh faktor fisik perairan. Hal ini nampak dari hempasan gelombang dimana jika kecil maka ukuran partikelnya juga kecil, tetapi sebaliknya jika hempasan gelombang besar maka partikelnya juga akan besar. Pada pantai berpasir hempasan gelombangnya kecil menyebabkan butiran partikelnya kecil.
















Pada daerah interstitial pantai berpasir, kita mengenal beberapa macam hewan, salah satunya adalah meiofauna. Istilah interstisial secara umum adalah ruang di antara partikel sedimen dan juga digunakan sebagai sinonim dari organisme yang hidup di dalamnya. Meiofauna merupakan istilah yang sering dipakai sebagai padanan kata interstisial atau psammon. Meiofauna adalah organisme yang hidup secara interstisial. Sinonimnya adalah meiobentos. Meiofauna dapat pula diartikan sebagai kelompok metazoa kecil yang berada di antara mikrofauna dan makrofauna. Meiofauna adalah kelompok hewan berukuran antara 63–1000 μm atau hewan-hewan multiseluler yang lolos pada saringan 0.063–1 mm dan merupakan organisme yang melimpah pada komunitas dasar yang bersubstrat lunak atau pada sedimen laut mulai dari zona litoral atas sampai pada zona abisal. Istilah endobentik digunakan bagi meiofauna yang berpindah dalam sedimen. Meiofauna yang hidup dan berpindah dalam ruang interstisial disebut mesobentik, sedangkan meiofauna yang hidup pada batas antara sedimen dan air (sediment-water interface) disebut epibentik.













Ada sekitar 38 taksa meiofauna yang hidup di sedimen perairan payau dan laut. Berdasarkan pada karakteristik hidupnya, meiofauna dapat dibagi ke dalam dua kelompok, yaitu
1.         meiofauna yang bersifat permanen
Meiofauna permanen adalah meiofauna sejati yang berukuran kecil sampai dewasa menghabiskan seluruh masa hidupnya di dalam ruangan antarbutiran sedimen atau sepanjang siklus hidupnya bersifat meiobentos, contohnya Nematoda, Gastrotricha, Tardigrada, Copepoda, Mystacocarida, Ciliophora, Archiannelida, Ostracoda, Rotifera, Kinorhyncha, dan Halacarida, beberapa kelompok Turbellaria, Oligochaeta, beberapa Polychaeta.
2.         meiofauna yang bersifat temporer
Meiofauna temporer atau sementara merupakan larva makrofauna dan juvenil organisme yang baru saja menetap, contohnya Bryozoa, Hydrozoa, Gastropoda, Nemertina, Brachiopoda, Amphipoda, Aplacophora, Holothuroidea, dan Tunicata.
Berdasarkan pada tipe habitatnya, meiofauna dapat diklasifikasikan ke dalam tiga kelompok, yaitu
1.         Meiofauna yang hidup pada substrat kasar (pasir) Contoh meiofauna yang hidup di pasir adalah Copepoda, Ostracoda, Gastrotricha, Turbellaria, Oligochaeta, Tardigrada dan Archiannelida
2.         Meiofauna yang hidup pada substrat lunak (lumpur) Contoh meiofauna yang hidup di lumpur adalah Nematoda, Copepoda, Foraminifera, Ostracoda dan Annelida
3.         Meiofauna yang hidup di lapisan sedimen yang miskin oksigen dan/atau tanpa oksigen Cotoh meiofauna ini adalah Nematoda, Turbellaria, Ciliata, Rotifera, Gastrotricha, Gnathostomulida dan Zooflagellata


Pada gambar di atas nampak organisme yang hidup pada pantai berpasir di daerah intertidal lebih banyak mengubur diri saat air sedang surut. Hal ini dikarenakan daerah tersebut sangat terbuka dari sinar matahari yang menyebabkan kekeringan.
Berdasarkan morfologi dan cara makannya, meiofauna dapat dikelompokkan menjadi empat, yaitu
1.    meiofauna pemakan deposit yang selektif (selective deposit feeders) dengan bentuk morfologi mulut yang sempit
2.    meiofauna pemakan deposit yang tidak selektif (non-selective deposit feeders) dengan bentuk morfologi mulut yang lebar
3.    meiofauna pemakan alga (herbivorous feeders)
4.    meiofauna omnivora/predator
Kehidupan meiofauna sangat dipengaruhi oleh karakteristik sedimen. Berdasarkan pada hal ini, maka meiofauna dapat dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu:
1.    Meiofauna penggali liang di dalam substrat lumpur. Meiofauna yang termasuk kelompok penggali liang menembus sedimen dengan memindahkan partikel dalam pergerakannya dan bentuk tubuhnya cenderung lurus memanjang (streamline) sehingga memudahkan penggalian.
2.    Meiofauna penghuni ruang interstisial yang hidupnya menetap di lapisan sedimen. Umumnya, komunitas meiofauna interstisial ini cenderung lebih beragam dibandingkan dengan meiofauna penggali liang (Funch et al. 2002).
Seperti hewan interstitial lainnya, meiofauna juga mengalami zonasi. Berikut zona meiofauna berdasarkan keadaan pasir
1.    Zona pasir kering (dry sand zone)
Yaitu zona sampai kedalaman 15 cm, temperatur pada daerah ini selalu berubah-rubah dengan kelembaban dapat kurang dari 50%, hanya terdapat sedikit nematoda dan oligochaetes hidup di zona ini.
2.    Zona pasir lembab (moist sand zone)
Yaitu zona yang terletak dibawah dry sand zone. Temperatur pada zona ini relatif konstan dengan kelembaban lebih dari 50%. Harpacticoid copepoda, mystacocarid, nematoda, oligochaetes dan turbelaria banyak terdapat di zona ini.
3.    Zona air (water table stratum)
Yaitu zona dengan kelembaban 40-70%, nematoda dan crustacea mendominasi zona ini.
4.    Zona oksigen rendah (low oxygen zone)
Yaitu zona dmana populasi meiofauna sangat jarang dijumpai. Hal tersebut dikarenakan tidak adanya oksigen yang tersedia untuk metabolism organism.

                          
Segenap organisme laut dipengaruhi oleh sifat air laut yang ada di sekeliling, dan banyak bentuk-bentuk yang umum dijumpai terhadap pergerakan air laut (Nybakken,1992). Keanekaragaman organisme di daerah pasang surut cukup tinggi. Faktor-faktor yang mempengaruhi keanekaragaman organisme yang hidup pada daerah pasang surut, terutama meiofauna yaitu : suhu, gerakan ombak, salinitas, faktor-faktor lain (Nybakken,1992). 
a.    Suhu
Daerah pasang surut biasanya dipengaruhi suhu udara selama periode yang berbeda-beda, dan suhu ini mempunyai kisaran yang luas, baik secara harian maupun musiman. Kisaran ini dapat melebihi batas toleran organism laut. Jika pasang surut terjadi jika suhu udara minimum (daerah sedang, dingin, kutub) atau ketika suhu udara maksimum (tropik), batas letal dapat dipercepat dengan meningkatnya suhu (Nybakken,1992). 
b.    Gerakan ombak
Di daerah pasang surut, gerakan ombak mempunyai pengaruh yang terbesar terhadap organisne dan komunitas dibandingkan dengan daerah laut lainnya. Aktivitas ombak mempunyai kehidupan pantai yang mempunyai kehidupan pantai secara langsung. Pada pantai terdiri dari pasir atau kerikil, kegiatan ombak dapat membongkar subtract di sekitar sehingga mempengaruhi bentuk zona (Nybakken,1992).
c.     Salinitas
Perubahan salinitas yang dapat mempengaruhi organisme terjadi di daerah pasang surut melalui dua cara. Pertama, karena di daerah pasang surut dan kemudian digenangi air atau aliran akibat hujan lebat, akibatnya salinitas akan turun. Kenaikan salinitas terjadi jika penguapan sangat tinggi pada siang hari (Nybakken,1992). Oleh karena itu, spesies yang hidup harus mampu bertahan pada kondisi dengan tingkat salinitas yang berubah-ubah.Hasil praktikum menunjukkan bahwa nematoda ditemukan hampir setiap plot sehingga meiofauna jenis ini mempunyai adaptasi yang tinggi terhadap perubahan sehu dan juga salinitas.
d.    Faktor-faktor lain
Faktor lainnya  yang berpengaruh bermacam-macam, meliputi pH, persaingan antar organisme dan pemangsaan. Persaingan terjadi karena masing-masing individu berusaha untuk mendapatkan nutrisi, sehingga mempengaruhi pola penyebaran individu, demikian pula pemangsaan oleh organism lain berpengaruh terhadap penyebaran organism di daerah pasanag surut Daerah pasang surut biasanya dipengaruhi suhu udara selama periode yang berbeda-beda, dan suhu ini mempunyai kisaran yang luas, baik secara harian maupun musiman. Kisaran ini dapat melebihi batas toleran organisme laut. Jika pasang surut terjadi jika suhu udara minimum (daerah sedang, dingin, kutub) atau ketika suhu udara maksimum (tropik), batas letal dapat dipercepat dengan meningkatnya suhu (Nybakken,1992).



If you want complete paper, request : oryza_135rsh@yahoo.co.id

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Tulis Komentar !!!