Minggu, 18 April 2010

DIVERSITY OF INDONESIA


Keanekaragaman hayati merupakan ungkapan pernyataan terdapatnya berbagai maacam variasi bentuk, penampilan, jumlah, dan sifat yang terlihat pada berbagai tingkatan makhluk hidup, yaitu tingkatan genetik, tingkatan spesies, dan tingkatan ekosistem. Keanekaragaman hayati menurut UU No. 5 tahun 1994 adalah keanekaragaman di antara makhluk hidup dari semua sumber termasuk di antaranya daratan, lautan, dan ekosistem akuatik lain, serta kompleks ekologi yang merupakan bagian dari keanekaragamannya, mencakup keanekaragaman dalam spesies, dan antara spesies dengan ekosistem.
Dipandang dari segi keanekaragaman hayati, posisi geografis Indonesia sangat menguntungkan. Indonesia terdiri dari beribu-ribu pulau, berada di antara dua benua, yaitu Asia dan Australia, serta terletak di khatulistiwa. Dengan posisi seperti ini, Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki kekayaan keanekaragaman hayati terbesar di dunia. Indonesia memiliki keanekaragaman spesies fauna yang tinggi. Diantaranya sebagai berikut, hewan menyusui 300 spesies, burung 7.500 spesies, reptil 2000 spesies, tumbuhan biji 25.000 spesies, tumbuhan paku-pakuan 1.250 spesies, lumut 7.500 spesies, ganggang 7.800 spesies, jamur 72.000 spesies, serta bakteri dan ganggang hijau biru 300 spesies. Beberapa pulau di Indonesia memiliki spesies endemik. Spesies endemik inilah spesies lokal, unik, dan hanya ditemukan di daerah atau pulau tertentu. Spesies endemik Indonesia banyak ditemukan di Pulau Sulawesi, Papua, dan Kepulauan Mentawai.
Sekitar 65% fauna di Kepulauan Mentawai (pantai barat Sumatera), yaitu di Pulau Siberut, rnerupakan spesies primata yang endemik. Misalnya Macaca pignensis, Simias concolor, Hylobates klosii dan Presbytispotenziani. Primata ini mempunvai ciri primitif karena adanya isolasi geografis dan penting untuk digunakan dalam studi evolusi. Mamalia lain yang digolongkan sebagai spesies endemik adalah lima jenis tupai, yaitu Callosciurus melanogaster, Iariscus obscurus, Sundasciurus fraterculus, Lomy sp, dan Hylopeles spora.
Keanekaragaman hayati Indonesia tersebar di berbagai tempat. Keanekaragaman flora dan fauna di suatu wilayah tidak terlepas dari dukungan kondisi di wilayah itu. Ada tumbuhan yang hanya dapat tumbuh di daerah yang beriklim tropis, dimana banyak curah hujan dan sinar matahari, dan ada yang hanya dapat tumbuh di daerah yang dingin dan lembab. Kita tentu tidak pernah melihat pohon Meranti atau Anggrek tropik pada daerah dingin di daerah tundra. Dukungan kondisi suatu wilayah terhadap keberadaan flora dan fauna berupa faktor-faktor fisik (abiotik) dan faktor non fisik (biotik).Yang termasuk faktor fisik (abiotik) adalah iklim (suhu, kelembaban udara, angin), air, tanah, dan ketinggian, dan yang termasuk faktor non fisik (biotik) adalah manusia, hewan, dan tumbuh-tumbuhan.
Berikut penjelasan mengenai penyebaran keanekaragaman hayati Indonesia, yaitu penyebaran flora dan faunanya.
1.        Penyebaran flora di Indonesia
Menurut Dr. Sampurno Kadarsan, ahli botani Indonesia, flora Indonesia termasuk dalam kawasan Malesiana. Kawasan Malesiana terdiri dari Indonesia, Filipina, Semenanjung Malaya, dan Papua Nugini. Kawasan ini dibatasi oleh tiga simpul demarkasi yang masing-masing terletak di Selat Torres di bagian selatan Jazirah Kra (Thailand) di bagian barat, dan di ujung utara pulau Luzon (Filipina). Berikut ini akan diuraikan penyebaran flora di Indonesia.
a.    Daerah hutan hujan tropis
Hutan hujan tropis terdapat di Sumatera, Kalimantan, Papua, Sulawesi, dan sedikit Jawa Barat (di bagian selatan). Daerah hutan hujan tropis ini memiliki ciri-ciri hutan lebat, heterogen, dan lembab. Hutannya ditumbuhi berbagai jenis pohon besar dan kecil dengan ketinggian mencapai 60 m. Tumbuhan di hutan ini memiliki mahkota daun yang bertingkat-tingkat. Jenis-jenis tumbuhan yang biasa ditemukan antara lain pohon kamper, eboni, meranti, damar, kemenyan, dan rotan.
b.    Daerah hutan musim
Hutan musim terdapat di Pulau Jawa (dari Jawa Barat hingga Jawa Timur). Hutan ini memiliki ciri hanya dihuni oleh satu jenis tumbuhan (homogen) dengan daun-daunnya yang meranggas (gugur) di musim kemarau. Jenis tumbuhan di hutan musim antara lain pohon jati dan cemara.
c.    Daerah sabana
Sabana kebanyakan terdapat di Madura dan Dataran Tinggi Gayo (Nanggroe Aceh Darussalam). Sabana memiliki ciri banyak ditemukannya rumput yang diselingi semak-semak atau rumpun pohon rendah. Hal ini umumnya terjadi karena musim kemarau yang panjang sehingga tumbuhan yang paling banyak ditemui adalah rumput dan tumbuhan semak.
d.    Padang rumput (stepa)
Padang rumput hanyak ditemukan di pulau Sumba, Sumbawa, Flores, dan Timor. Wilayah ini umumnya memiliki padang rumput yang luas, musim kemarau yang panjang, dan berpotensi untuk peternakan sapi, kuda sandel (sumba), dan kuda bima. Daerah terkering pada wilayah ini terdapat di lembah Palu. Tumbuhan yang ada hanya kaktus.
2.        Penyebaran fauna di Indonesia
Penyebaran fauna di Indonesia berkaitan dengan letak Indonesia, yaitu di antara kawasan Oriental (Benua Asia) di sebelah barat dan kawasan Australia (Benua Australia) di sebelah timur. Namun demikian, karena Indonesia terdiri dari deretan pulau yang sangat berdekatan maka migrasi fauna antarpulau memberi peluang bercampurnya unsur dari dua kelompok kawasan tersebut. Percampuran ini mengaburkan batas antara kawasan Oriental dan kawasan Australia. Peta persebaran fauna Indonesia didasarkan pada garis wallace (membatasi Fauna Asiatis dengan Fauna Peralihan) dan garis weber (membatasi Fauna Australis dengan Fauna Peralihan).  
a.       Fauna tipe Asiatis
Fauna tipe Asiatis mencakup fauna di wilayah Sumatera, Kalimantan, Jawa dan bali (bagian barat). Karakteristik fauna di wilayah ini yaitu banyak terdapat jenis hewan menyusui yang berukuran besar serta berbagai macam kera dan ikan air tawar. Di wilayah ini jarang ditemukan jenis burung yang berwarna. Contoh jenis fauna yang ditemukan adalah monyet proboscis, orang utan, badak bercula satu, beruang matahari, babi hutan, bebek pohon, urung heron, gajah dan burung merak.

b.      Fauna tipe peralihan (Australia-Asiatik)
Fauna tipe peralihan (Australia-Asiatik) mencakup fauna di wilayah Sulawesi dan kepulauan Nusa Tenggara (bagian tengah). Karakteristik fauna di wilayah ini adalah adanya jenis hewan yang mirip dengan tipe Asia atau tipe Australia. Contoh jenis fauna yang ditemui di wilayah ini antara lain babirusa, beruang, kuskus, anoa, kuskus kerdil, dan komodo.
c.       Fauna tipe Australia
Fauna tipe Australia mencakup fauna di wilayah Papua dan Kepulauan Aru (bagian timur). Karakteristik fauna di wilayah ini adalah banyak terdapat jenis hewan menyusui yang berukuran kecil dan jenis hewan berkantung, tidak ada jenis kera, sedikit jenis ikan tawar dan banyak jenis burung berwarna. Contoh jenis fauna yang ditemui di wilayah ini antara lain kanguru pohon, kuskus bertutul, walabi, landak pemakan semut, burung cendrawasih, burung kasuari, burung pelican Australia, burung betet, burung merpati bermahkota, dan burung kakatua.
Keanekaragaman hayati Indonesia sangat bermanfaat bagi keberlangsungan masyarakat Indonesia, antara lain sebagai berikut :
a.    Keanekaragaman hayati sebagai sumber pangan
b.    Keanekaragaman hayati sebagai sumber sandang dan papan
c.    Keanekaragaman hayati sebagai sumber obat dan kosmetik
d.    Keanekaragaman hayati sebagai sumber budaya
Walaupun Indonesia menduduki posisi penting dalam peta keanekaragaman hayati dunia, karena termasuk dalam 10 negara yang kekayaan keanekaragaman hayatinya tertinggi, atau dikenal dengan megadiversity country, namun di dalam pelestariannya masih perlu perhatian kusus. Perlu dipahami secara utuh oleh manusia karena disadari atau tidak, eksploitasi terhadap sumber-sumber daya hayati sering tidak terkontrol sehingga memberikan dampak negatif terhadap kelangsungan hidup manusia itu sendiri. Secara umum pemanfaatan keanekaragaman hayati masih berorientasi untuk mendapatkan keuntungan ekonomis yang sebesar-besarnya tanpa memperhatikan dampak yang ditimbulkan terhadap lingkungan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Tulis Komentar !!!