Senin, 26 November 2012

TERGOLONG KAUM APAKAH KITA? Industrialis, Konservatif, Humanis, ataukah Progressive?


Oleh : Riza Sativani Hayati/12708251080/Pendidikan Sains/D

Pada perkuliahan Filsafat Ilmu ke-11 ini, sempat membuat kami para mahasiswa tercengang. Bagaimana tidak? Di tengah perkuliahan, kami diminta oleh Prof. Dr. Marsigit menuliskan satu kata yang mewakili “pendidikan” dari intuisi kami. Intuisi saya langsung tertuju pada kata “transfer”. Karena dalam pemikiran saya, pendidikan adalah transfer knowledge, transfer skill, dan transfer value. Kemudian Bapak Marsigit memberikan nomor pada masing-masing jawaban kami, dan nomor yang saya dapatkan adalah nomor 1. Apa maksud dari nomor tersebut? No. 1 berarti menunjukkan bahwa saya adalah kaum industrialis. Dalam benak saya langsung muncul banyak pertanyaan. Apa ini maksudnya? Apakah saya seorang kapitalis? Abdi Amerika? Ternyata menurut Prof. Dr. Marsigit, kata transfer menunjukkan ciri seorang Industrialis. Beliau menyampaikan, ada lima penggolongan manusia, yakni sebagai kaum industrialis, konservatif, humanis, progressif, atau socio konstruktif. Berikut akan sedikit dibahas pengertian dari keempat istilah tersebut, yaitu: industrialis, konservatif, humanis, dan progressif.
Kaum Industrialis biasa disebut dengan sebutan kapitalisme. Kapitalisme adalah suatu paham yang meyakini bahwa pemilik modal bisa melakukan usahanya untuk meraih keuntungan sebesar-besarnya. Beberapa mendifinisikan kapitalisme merupakan sebuah sistem. Sampai saat ini, kapitalisme dipandang sebagai suatu pandangan hidup yang hanya menginginkan keuntungan belaka. Kritik akan keberadaan kapitalisme itu sendiri dikarenakan kapitalisme sebagai bentuk suatu penindasan terhadap masyarakat kelas bawah, inilah yang merupakan salah satu faktor yang menyebabkan aliran ini banyak di kritik dan ditentang. Terdapat tiga unsur yang sangat penting seseorang atau sekelompok orang dapat dikatakan menganut kapitalisme, yaitu akumulasi, ekspansi, dan eksploitasi. Akumulasi adalah penumpukan atau penimbunan keuntungan dengan tujuan memperkaya dirinya sendiri. Ekspansi, yaitu memperluas, suatu metode atau cara yang dilakukan untuk mendapatkan keutungan yang lebih dengan cara menambah jumlah, yang tadinya hanya memiliki satu perusahaan di satu tempat, kemudian para kaum kapital menambahkan jumlah menjadi dua atau lebih, dan itu bisa di suatu tempat yang sama ataupun berbeda dengan bertujuan agar apabila para kapital menambahkan jumlah produksinya terebut maka keuntungan yang akan didapat besarnya akan berkali kali lipat sesuai dengan jumlah hasil produksi tersebut. Agar lebih mudah memahaminya, seperti contohnya apa yang dilakukan oleh sebuah mini market (indomart, alfamart, circle K, dan lain-lain), mall, dan masih banyak lagi. Sedangkan eksploitasi ialah mengeruk ataupun menghisap semua baik itu dari SDA maupun SDM. Bila dari sudut SDAnya seperti apa yang dilakukan oleh PT.FREEPOT yang ada di Irian, perusahaan tersebut mengeruk atau menghisap hasil SDA yang ada disana seperti emas sampai habis tanpa melihat dampak yang akan terjadi, itu semua bertujuan agar pihak kapital tersebut mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya untuk dirinya sendiri, sedangkan bila dari sudut SDMnya seperti perusahaan atau pabrik yang mengeruk atau menghisap tenaga, waktu dan sebagainya terhadap para pekerja pabriknya yang berdampak merugikan bagi pihak para pekerja pabrik tetapi akan menguntungkan pemilik pabrik (http://saptiangila.blogspot.com/search/label/pengertian%20 kapitalisme). Lantas dari penjabaran tersebut saya merasa berharap tidak memenuhi ketiga unsur tersebut, jadi saya katakan TIDAK untuk menjadi kaum industrialis.
Kalangan konservatif atau kanan, dalam tradisi politik di Amerika diwakili oleh Partai Republik, cenderung pada bentuk pemerintahan yang langsing, ramping, dan kecil. Karena hanya bentuk pemerintahan seperti inilah yang bisa menangkal kemungkinan terjadinya korupsi, salah-urus, selain murah dan efektif. Kaum konservatif melihat pemerintahan sebagai semacam “necessary evil” atau kejahatan yang terpaksa harus dilakukan karena adanya maslahat tertentu yang bisa dicapai melalui institusi itu. Kaum konservatif jelas bukan kaum anarkis. Meskipun mereka curiga pada pemerintah dan negara, mereka sangat membenci “anarki” dan menekankan “order” atau keteraturan. Bagi mereka, mekanisme sosial yang paling baik untuk mempertahankan keteraturan adalah tradisi, nilai-nilai, asosiasi sukarela yang dikelola sendiri oleh masyarakat, semacam “jam’iyyah” seperti dipahami oleh warga Nahdlatul Ulama (NU). Itulah yang menjelaskan kenapa kaum konservatif sangat peduli dengan lembaga keluarga. Bagi kaum konservatif, jika ada anggota masyarakat jatuh sakit atau bangkrut, bukan tugas negara untuk menolongnya. Yang pertama-tama wajib memberikan uluran tangan adalah keluarga, tetangga atau komunitas yang menjadi “pengayom” orang bersangkutan. Masyarakat mempunyai “mekanisme sosial” untuk mengatasi “penyakit sosial” yang muncul di kalangan mereka. Negara tak usah ikut campur. Sebagaimana saya katakan di atas, mereka curiga pada pemerintah dan negara, dan lebih percaya pada kekuatan lembaga sosial. Inilah filosofi kaum konservatif atau kanan (http://www.sumbarprov.go.id /artikel.php).
Di seberang kaum konservatif kita jumpai sejumlah pandangan, mazhab, dan arus pemikiran yang bermacam-macam, dan karena tak ada istilah tunggal yang bisa merangkum semuanya, kita sebut saja arus pemikiran kedua ini sebagai kaum kiri (dalam tradisi politik Amerika diwakili oleh Partai Demokrat). Dalam pandangan mazhab kedua ini, negara adalah institusi yang menjadi harapan pokok masyarakat. Negara adalah “the great dispenser of social welfare”. Negara adalah institusi yang membagi-bagikan tunjangan kepada masyarakat yang tidak mampu. Negara dibebani tugas besar untuk mengatasi semua “kegagalan sosial” yang ada dalam masyarakat. Karena negara mendapat tugas yang besar, dengan sendirinya negara menjadi gemuk, bongsor, dan menggelembung. Mazhab ini mengkritik kalangan kanan atau konservatif dengan argumen yang tak kalah menariknya. Bagi mereka, mengandaikan masyarakat sebagai sebuah “pasar” yang bekerja menurut hukum-hukum tertentu, sangat tidak realistis. Bentuk masyarakat seperti itu tak ada dalam dunia kongkrit. Negara tidak bisa duduk mencangkung sebagai penonton saja saat terjadi malapetaka dalam masyarakat. Negara harus turun tangan dan ikut menyelesaikannya. Negara tak bisa membiarkan masyarakat mengatasi masalah sendiri. Alasan berdirinya negara adalah persis untuk menolong masyarakat, bukan sekedar menjadi “polisi yang menjaga lalu-lalang lalu-lintas”. Kaum kiri, dengan kata lain, melihat negara sebagai “mesiah” yang diharapkan memberikan pertolongan dalam semua hal (http://www.sumbarprov.go.id/artikel.php). Mengenai penjabaran di atas, nampaknya saya juga mengatakan TIDAK untuk menjadi anggota golongan kaum konservatif.
Humanisme dipandang sebagai sebuah gagasan positif oleh kebanyakan orang. Humanisme mengingatkan kita akan gagasan-gagasan seperti kecintaan akan peri kemanusiaan, perdamaian, dan persaudaraan. Tetapi, makna filosofis dari humanisme jauh lebih signifikan, humanisme adalah cara berpikir bahwa mengemukakan konsep peri kemanusiaan sebagai fokus dan satu-satunya tujuan. Dengan kata lain, humanisme mengajak manusia berpaling dari Tuhan yang menciptakan mereka, dan hanya mementingkan keberadaan dan identitas mereka sendiri. Kamus umum mendefinisikan humanisme sebagai “sebuah sistem pemikiran yang berdasarkan pada berbagai nilai, karakteristik, dan tindak tanduk yang dipercaya terbaik bagi manusia”, bukannya pada otoritas supernatural mana pun. Dewasa ini, humanisme telah menjadi nama lain bagi ateisme. Salah satu contohnya adalah antusiasme terhadap Darwin yang khas pada majalah Amerika, The Humanist. Namun, definisi paling jelas tentang humanisme dikemukakan oleh pendukungnya. Salah seorang juru bicara humanisme paling terkemuka di masa kini adalah Corliss Lamont. Dalam bukunya, Philosophy of Humanism, ia menulis yang intinya humanisme meyakini bahwa alam merupakan jumlah total dari realitas, bahwa materi-energi dan bukan pikiran yang merupakan bahan pembentuk alam semesta, dan bahwa entitas supernatural sama sekali tidak ada. Ketidaknyataan supernatural ini pada tingkat manusia berarti bahwa manusia tidak memiliki jiwa supernatural dan abadi; dan pada tingkat alam semesta sebagai keseluruhan, bahwa kosmos kita tidak memiliki Tuhan yang supernatural dan abadi. Sebagaimana dapat kita lihat, humanisme nyaris identik dengan ateisme, dan fakta ini dengan bebas diakui oleh kaum humanis (http://rykers.blogspot.com/). Saya seorang yang beragama muslim, jadi saya katakan TIDAK dengan lantang untuk menjadi kaumnya humanis.
Ada tiga tilopogi kaum progresif menurut Laode Ida. Pertama, kaum progresif-transformis, yakni mereka yang secara intern mengupayakan penyadaran terhadap subyek dengan harapan subyeklah yang akan mengubah dirinya sendiri serta melakukan perubahan dalam komunitas yang lebih luas. Mereka ingin melakukan pencerahan  agar tidak terjebak dalam persoalan politik pragmatis, sehingga nantinya dapat mentransformasikan programnya dalam berbagai hal dan berbagai wilayah kehidupan. Kedua, progresif-radikalis, yakni mereka yang memperjuangkan kesetaraan [egalitarian] dengan menjunjung tinggi atau bersdandar pada nilai-nilai HAM dan kultur dasar komunitas. Kelompok ini sering disebut sebagai virus pemikiran dan gerakan kiri atau sekuler. Ketiga, progresif-moderat, yakni mereka yeng memiliki ide-ide tentang perubahan tetapi tidak memiliki  ideologi  yang jelas dan konsisten diperjuangkan. Mereka tidak mau total sebagaimana kedua kelompok pertama, karena mereka ingin berada ditengah-tengah terhadap arus yang ada. Ketiganya itu telah menjadi corak berfikir kalangan  muda, sehinga menjadi begitu radikal, progresif, liberal dan pluralis. Mereka banyak bergabung dalam organisasi dan LSM yang mampu menampung cara berfikir mereka (http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,pdf-ids,12-id,7999-lang,id-c,buku t,NU+Muda++Kaum+Progresif+dan+Sekularisme+ Baru-.phpx). Dari penjabaran ini, mungkin saya lebih condong ingin menjadi kaum progressif-transformis.
Wallahu’alam bi shawab. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Tulis Komentar !!!