Rabu, 26 Januari 2011

SAINS BEBAS NILAI ?


A.     DESKRIPSI SAINS BEBAS NILAI
Sains bebas nilai, objektif dan diolah melalui pengamatan berkesinambungan, terus menerus, dan disempurnakan. Hadir dari filsafat positivisme yang mengangungkan pendekatan material dan harus terukur secara inderawi (melalui metodologi keilmuan tentunya). Sains, didalamnya melahirkan kebenaran-kebenaran dan uji-uji hipotesis dari masa ke masa dengan segala latar belakangnya menimbulkan kebanggaan dan keberdayaan manusia dengan produk teknologinya.  Meski kita sadari juga, pada akhirnya seluruh proses kreatifitas manusia dan kemampuan berpikir manusia untuk mengelola alam semesta dengan segala pernak-perniknya selalu melahirkan penemuan-penemuan baru yang kian lama kian shophisticated, kian canggih.  Namun, ilmuwan tetap terperangah, apalagi orang awam seperti kita ini.  Suatu fakta selalu terbentang di depan mata bahwa seluruh kreatifitas dan hitungan yang jlimet selalu kemudian disadari :”Selalu ada sesuatu dibalik itu yang lebih spektakuler, selalu lebih mempesona, dan lebih kreatif”.  Tidak salah karenanya, ilmuwan kemudian memahami bahwa kreatifitas alam semesta dalam membangun dirinya lebih kaya dibandingkan dengan kemampuan olah dan pikir manusia dalam memahaminya.
Dalam pemabahasan mengenal hal ini kami menemukan 2 persepsi yang berbeda. Ada yang mengatakan bahwa sains itu bebas nilai, tidak ada sangkut pautnya dengan keyakinan apalagi agama. Namun ada pula yang mengatakan bahwa sains itu tidak bebas nilai dengan alasan landasan perkataaan Enstein  yang mengeluarkan kata terkenal : “Sains tanpa agama buta, dan agama tanpa ilmu pincang” atau Stephen Hawking berkata :”saya membaca pikiran-pikiran Tuhan”.
Titik tengah dari pendapat tersebut adalah seperti pada uraian berikut. Pembuktian teori-teori sains yang dikembangkan dilandasi pencarian kebenaran, bukan pembenaran nafsu manusiawi. Secara sederhana, sering dikatakan bahwa dalam sains kesalahan adalah lumrah karena keterbatasan daya analisis manusiawi, tetapi kebohongan adalah bencana.
Perkembangan ilmu pengetahuan dalam sejarahnya tidak selalu melalui logika penemuan yang didasarkan pada metodologi objektivisme yang ketat. Ide baru bisa saja muncul berupa kilatan intuisi atau refleksi religius, di mana netralitas ilmu pengetahuan kemudian rentan permasalahan di luar objeknya. Yaitu terikat dengan nilai subjektifitasnya seperti hal yang berbau mitologi. Dengan demikian netralitas ilmu semakin dipertanyakan.
Setiap buah pikiran manusia harus kembali pada aspek ontologi, epistimologi, dan aksiologi. Hal ini sangat penting bahwa setelah tahap ontologi dan epistimologi suatu ilmu dituntut pertanyaan yaitu tentang nilai kegunaan ilmu (aksiologi). Dari sudut epistemologi, sains (ilmu pengetahuan) terbagi dua, yaitu sains formal dan sains empirikal. Sains formal berada di pikiran kita yang berupa kontemplasi dengan menggunakan simbol, merupakan implikasi-implikasi logis yang tidak berkesudahan. Sains formal netral karena berada di dalam pikiran kita dan diatur oleh hukum-hukum logika. Adapun sains empirical tidak netral. Sains empirikal merupakan wujud kongkret jagad raya ini, isinya ialah jalinan-jalinan sebab akibat. Sains empirikal tidak netral karena dibangun oleh pakar berdasarkan paradigma yang menjadi pijakannya, dan pijakannya itu merupakan hasil penginderaan terhadap jagad raya. Pijakan ilmuwan tersebut tentulah nilai. Tetapi sebaliknya pada dasar ontologi dan aksiologi bahwa ilmuwan harus menilai antara yang baik dan buruk pada suatu objek, yang hakikatnya mengharuskan dia menentukan sikap.
Objek ilmu memiliki nilai intrinsik sementara di luar itu terdapat nilai-nilai lain yang mempengaruhinya. Objek tidak dapat menghindari nilai dari luar dirinya karena tidak akan dikenal sebagai ilmu pengetahuan apabila hanya berdiri sendiri dan sibuk dengan nilainya sendiri. Dengan kata lain ilmu bukan hanya untuk kepentingan ilmu sendiri tetapi ilmu juga untuk kepentingan lainnya, sehingga tidak dapat diabaikan kalau ilmu terikat dengan lainnya seperti nilai. Paradigmalah yang menentukan jenis eksperimen dilakukan para ilmuwan, jenis-jenis pertanyaan yang mereka ajukan, dan masalah yang mereka anggap penting dan manfaatnya. Ketidaknetralan ilmu disebabkan karena ilmuwan berhubungan dengan realitas bukan sebagai sesuatu yang telah ada tanpa interpretasi, melainkan dibangun oleh skema konseptual, ideologi, permainan bahasa, ataupun paradigma.
Di samping itu ilmu yang bebas nilai juga akan berimplikasi lepasnya secara otomatis tanggungjawab sosial para ilmuwan terhadap masalah negatif yang timbul, karena disibukkan dengan kegiatan keilmuan yang diyakini sebagai bebas nilai alias tak bisa diganggu gugat. Jika ilmuwan berlepas terhadap persoalan negatif yang ditimbulkannya, maka secara ilmiah mereka dianggap benar. Hal yang sangat menggelikan. Seharusnya ilmuwan menerima kebenaran yang didapat dalam penyelidikan ilmu dengan kritis. Setiap pendapat yang dikemukakan diuji kebenarannya, itulah yang membawa kemajuan ilmu. Kelanggengannya dapat diganti dengan penemuan yang baru. Kemudian di mana letak kenetralan ilmu?
Dalam perkembangan ilmu sering digunakan metode trial and error, dan sering menimbulkan permasalahan eksistensi ilmu ketika eksperimentasi ternyata seringkali menimbulkan fatal error sehingga tuntutan nilai sangat dibutuhkan sebagai acuan moral bagi pengembangannya. Dalam konteks ini, eksistensi nilai dapat diwujudkan dalam visi, misi, keputusan, pedoman perilaku, dan kebijakan moral.
Dapat disimpulkan bahwa ilmu dapat netral hanya pada aspek sains formal sedangkan pada sains empirik, ontology, dan aksiologi sains tidak bisa netral. Objek ilmu, subjek ilmu, dan pengguna ilmu saling berkaitan. Ilmu dibangun oleh interpretasi ilmuwan yang didasari paradigma dan nilai diluar objek ilmu.
Hukum konservasi massa dan energi yang secara keliru sering disebut sebagai hukum kekekalan massa dan energi sering dikira bertentangan dengan prinsip tauhid. Padahal itu hukum agama yang dirumuskan manusia, bahwa massa dan energi tidak bisa diciptakan dari ketiadaan dan tidak bisa dimusnahkan. Alam hanya bisa mengalihkannya menjadi wujud yang lain. Hanya Tuhan yang kuasa menciptakan dan memusnahkan.
Demikian juga tetap sains yang berlandaskan agama yang menghasilkan teknologi kloning, rekayasa biologi yang memungkinkan binatang atau manusia memperoleh keturunan yang benar-benar identik dengan sumber gennya. Teori evolusi dalam konteks tinjauan aslinya dalam sains, juga agamis bila didukung bukti saintifik. Semua prosesnya mengikuti sunnah agama, yang tanpa kekuasaan Tuhan semuanya tak mungkin terwujud.
Dalam sains, rujukan yang digunakan semestinya dapat diterima semua orang, tanpa memandang sistem nilai yang dianutnya. Dalam hal ini sistem nilai yang tidak mungkin dilepaskan. Memang tidak akan tampak dalam makalah ilmiahnya, tetapi sistem nilai yang dianut seorang saintis kadang tercermin dalam pemaparan yang bersifat populer atau semi-ilmiah.
Karena objektivitasnya pada pandangan indrawi dan harus teruji, maka sains mendekati dari kacamata agama (Islam) menjadi susah.  Islam tidak bebas nilai.  Islam berbicara pada sudut-sudut yang tidak dimiliki oleh ilmu (pengetahuan).    Karena itu pula, Jamaluddin menulis dalam artikel yang dikomentari Joesath : “tidak ada sains islam yang ada adalah saintis islam dan bukan saintis islam”.
Salah satu alasan pandangan sains yang tidak bebas nilai yaitu ketika mempelajari sains, manusia tetap saja punya keinginan-keinginan untuk menyimpulkan sesuatu atas dasar cara pandangnya.  Ketika Eistein mengeluarkan kata yang terkenal : “Sains tanpa agama buta, dan agama tanpa ilmu pincang” atau Stephen Hawking berkata :”saya membaca pikiran-pikiran Tuhan”, sangat jelas bahwa persepsi pengetahuan dan kemampuan memahami fenomena alam melahirkan kesimpulan-kesimpulan yang tidak bebas nilai.
Sains juga ditelaah dengan segala kemajuannya semakin (menurut agor) semakin juga terjerembab pada pertanyaan-pertanyaan yang semakin tidak ada jawabnya jika diolah dari pengetahuan inderawi, terukur, dan objektif.  Karena, semakin di dalami, semakin tampak bahwa penelitian-penelitian yang terjadi, indikator-indikator yang terjadi mengarah pada substansi yang tak tertangkap oleh inderawi.  Paling minimal, indikasi makin mengetahui menjadi semakin tidak mengetahui.  Misalnya saja, ketika bicara alam, muncul pemikiran alam paralel, materi gelap, ketiadaan materi dalam teori dawai.  Wujud menjadi sesuatu yang pseudo.
Jawaban-jawaban kemudian sangat tampak subjektif atas objektif yang diamati atau diteorikan.  Jadi, semakin tampak bahwa sains harus (baca : kemudian) semakin subjektif dan tidak bebas nilai.  Kesulitan sains mempertahankan posisi untuk bebas nilai semakin sulit karena fakta indera menangkap begitu banyak masalah-masalah di luar dimensi-dimensi fisik yang terukur pada bidang-bidang fisika, kimia, biologi, astronomi tampaknya semakin menekan ilmuwan untuk melihat dan harus melihat tidak hanya pada realitas objektif, tapi juga realitas relatif terhadap spirit atau metafisik.

B.     CONTOH OPERASIONAL SAINS BEBAS NILAI
1.         Teori Relativitas
Teori relativitas ada dua, Teori Relativitas Khusus dan Teori Relativitas Umum. Teori khusus menyatakan bahwa masing-masing pengamat yang bergerak seragam (tanpa percepatan) akan menyatakan hasil pengukuran yang berbeda, misalnya tentang panjang, waktu, dan energi. Asumsinya, prinsip relativitas dan kecepatan cahaya yang konstan. Salah satu bukti kebenaran teori ini yang dikenal masyarakat adalah teori kesetaraan massa dan energi, E=mc2, bila ada m massa yang dihilangkan akan muncul energi sebesar E. Teori inilah yang menjadi dasar penggunaan energi nuklir, baik untuk maksud damai maupun untuk maksud merusak.
Teori umum memperluas teori khusus dengan meninjau pengamat yang bergerak dipercepat relatif terhadap lainnya akibat gravitasi. Teori ini memperkenalkan kelengkungan ruang waktu. Sumber gravitasi besar menyebabkan kelengkungan ruang waktu yang dalam. Karena kesetaraan massa dan energi (antara lain cahaya), gravitasi bukan hanya mempengaruhi massa tetapi juga cahaya. Cahaya akan dibelokkan mengikuti geometri ruangwaktu di sekitar sumber gravitasi tersebut. Misalnya, cahaya galaksi yang jauh yang melintasi galaksi lain sebagai sumber gravitasi kuat akan dibelokkan sehingga tampak bukan pada posisi sesungguhnya. Fenomena ini juga dikenal sebagai lensa gravitasi, sehingga satu galaksi yang berada jauh di belakang galaksi lain, tampak seperti beberapa galaksi sejenis di sekitar suatu titik sumber gravitasi.
Teori sains seperti itu, menurut saintis, netral, bebas nilai. Teori tersebut bebas dibuktikan oleh siapa pun. Teori tersebut makin kuat posisinya karena semakin banyak bukti yang mendukungnya. Hukum alam yang diformulasi teori tersebut bukan buatan manusia, tetapi hukum agama. Einstein dan para saintis lainnya hanya memformulasikannya. Hukum Allah itu telah ada bersama dengan alam yang diciptakan-Nya. Siapa pun yang memformulasikannya dengan benar akan menghasilkan teori yang sejalan.
Bukti bebas nilainya sains dapat juga ditunjukkan dari lahirnya teori penyatuan gaya lemah dan gaya elektromagnetik yang dirumuskan secara independen oleh Abdus Salam (seorang Muslim) dan Steven Weinberg (seorang ateis). Dua orang yang berbeda sistem nilainya dapat menghasilkan teori yang sama. Mungkin ada motivasi ketauhidan pada diri Abdus Salam, bahwa Alam yang diciptakan oleh Tuhan yang esa hukum-hukumnya mempunyai keterkaitan yang dapat dipersatukan dalam satu teori besar (Grand Unified Theories -- GUTs). Tetapi motivasi dan argumentasi ketauhidan seperti itu tidak akan muncul secara formal dalam publikasi saintifik, karena belum tentu dapat diterima semua orang.
Teori relativitas pun tersebut juga dapat dikatakan Islami. Artinya, mengikuti hukum Allah (Islam dalam arti yang umum berarti berserah diri). Teori yang mengungkapkan bagaimana alam tunduk pada hukum Allah sudah pasti berarti juga mengikuti hukum Allah.
Hukum gravitasi Newton telah mengungkapkan hukum Allah yang mengatur gerakan-gerakan planet mengitari matahari. Orang kemudian melihat suatu keanehan dengan orbit planet Merkurius yang orbitnya selalu bergesar. Bila orang menganggap hukum Newton sebagai formulasi hukum Allah yang sempurna, boleh menyatakan bahwa Merkurius "membangkang" dari hukum Allah. Ternyata kesan "pembangkangan" planet Merkurius disebabkan karena keterbatasan formulasi teori Newton. Karena alam semestinya taat pada hukum Allah sesuai dengan janji ketika diciptakan (Q. S. 41:11), mestinya ada formulasi yang lebih baik yang bisa menjelaskan bahwa planet Merkurius tidak "membangkang" hukum Allah. Teori relativitas menjelaskan bahwa karena posisi Merkurius dekat dengan matahari, ada tambahan gaya dorong yang menyebabkan orbitnya berubah. (Ini contoh pemaparan saintis Islam tentang teori sains yang bebas nilai itu).
Itulah esensi teori sains. Menjelaskan hukum Allah sebatas pengetahuan manusia karena keterbatasan ilmu manusia (Q. S. 17:85). Tidak ada seorang saintis pun yang dapat mengklaim suatu teori sains yang paling benar secara mutlak. Ungkapan yang bisa dinyatakan adalah "bukti-bukti pengamatan saat ini membuktikan teori inilah yang paling kuat", artinya bisa saja suatu saat ada bukti lain yang menggugurkannya.
Dalam sains tidak masalah "...create more problems than they solve" (mengutip ungkapan tentang SBS dalam makalah Prof. Herman Suwardi), tentu dalam konteks problem saintifik. Karena, saintis selalu merasa tertantang dengan problem-problem baru. Banyak orang tidak menyangka bahwa sebenarnya sebagian besar waktu saintis digunakan untuk merencanakan cara memperoleh data baru untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan saintifik terbaru.
Dalam tinjauan filsafat ilmu (mengutip makalah Prof. Herman Suwardi), teori relativitas dipandang makna filosofisnya bahwa ada banyak alternatif untuk menampakkan kebenaran dan kita tidak tahu mana yang salah dan mana yang benar, atau mana yang mendekati kenyataan. Karena itu orang tidak mungkin tahu ("know") tentang alam. Maka, mengutip Tarnas, realitas atau "scientific truth" sekarang menjadi kabur. Seseorang tidak mungkin mempunyai akses rasional pada kebenaran universal. Observasi merupakan titik lemah dari sains karena obyektivitas observasi tidak mungkin. Karena semua orang memandang segala hal yang ada di alam empirik ini dengan mata yang dilapisi oleh "lensa" dan setiap orang memiliki lensanya sendiri. Sehingga sains dianggapnya sebagai fenomena yang terikat pada paradigma. Karenanya, beralasan bila dengan cara pandang demikian dan menghendaki kebenaran hakiki (hal yang lazim dalam filsafat) sampai pada kesimpulan "sains" tidak tidak netral. Memang, mengkaji secara mendalam mencari kebenaran universal yang hakiki mau tidak mau akan bersentuhan dengan sistem nilai yang dianut dalam kajian tersebut.
Sebenarnya, mencari kebenaran hakiki bukan lagi ruang lingkup kajian sains. Karena sains tidak mungkin sejauh itu. Sains berkepentingan pada kebenaran saintifik berdasarkan bukti-bukti yang diakui menurut kaidah-kaidah ilmiah. Diharapkan kebenaran saitifik tersebut mendekati kebenaran hakiki, tetapi tak seorang saintis pun berhak mengklaim itulah kebenaran hakiki. Jadi, definisi "sains" yang disebut tidak netral oleh pakar filsafat ilmu pasti bukan sains yang dimaksud oleh para saintis.
2.      Kerusakan Lapisan Ozon
Dampak buruk perkembangan sains dan teknologi sering dijadikan legitimasi bahwa sains tidak netral dan tidak Islami. Sains yang berdampak buruk itu diasosiasikan sebagai Sains Barat Sekuler (SBS). Sebagai alternatifnya ditawarkan sains Islam yang dipandu wahyu yang semestinya tidak akan berdampak buruk. Karena Islam dijanjikan Allah sebagai rahmat bagi alam semesta.
Ada yang rancu di sini. Antara sains dan dampak dari sains. Dampak dari sains (dan teknologi) sudah melibatkan penggunanya (manusia) yang di luar lingkup kajian sains alami. Dalam hal ini, sistem nilai bukan berpengaruh pada sains, tetapi pada perilaku manusia penggunanya. Sains itu ibarat pisau. Netral. Tidak ada spesifikasi pisau Islam, pisau Kristen, pisau tukang sayur, atau pisau tukang daging. Dampak pisau bisa negatif bila digunakan untuk merusak atau membunuh. Tetapi bisa juga positif.
Sains dihadapkan pada masalah kerusakan lapisan ozon. Satelit mendeteksi lapisan ozon di atas antartika yang menipis yang dikenal sebagai lubang ozon. Sains mengkaji sebab-sebabnya. Ada sebab kosmogenik (bersumber dari alam), antara lain variasi akibat aktivitas matahari. Ada sebab antropogenik (bersumber dari aktivitas manusia). Sains juga akhirnya menemukan sumber antropogenik itu salah satunya CFC (Chlor Fluoro Carbon) atau freon yang banyak digunakan sebagai media pendingin kulkas dan AC. Kini sains menemukan bahan alternatif yang tidak merusak ozon.
Dapatkah sains dipersalahkan dan dijuluki sains barat sekuler yang merusak? Kebetulan yang menemukan freon adalah saintis non-Muslim. Karena sains bersifat universal, sebenarnya mungkin juga saintis Muslim yang menemukannya. Bila demikian yang terjadi, bolehkah pada awal penemuannya bahan yang sangat berguna dalam proses pendinginan diklaim sebagai bagian dari hasil sains Islam, sains Barat, atau lainnya? Karena keterbatasan ilmu manusia, tidak semua dampak dapat diprakirakan. Ketika kini diketahui dampak buruknya, tidaklah adil untuk melemparkan tuduhan bahwa itu produk sains barat sekuler. Bisa jadi, bila dulu yang menemukannya seorang Muslim dan diklaim sebagai hasil sains Islam, maka sains Islam yang akan dihujat.

C.     MUNGKINKAH MEWUJUDKAN SAINS ISLAM
Para saintis segera menjawab pertanyaan seperti itu, "Tidak mungkin mewujudkan sesuatu yang tidak ada!". Karena sains bersifat universal dan bebas nilai, tidak ada sains Islam. Tetapi bagaimana bila diujicobakan dengan usulan menjelmakan ilmu tauhidullah dengan mengganti premis-premis empiris yang sembarang dengan premis-premis transendental?
Pada awal 1980-an Pakistan dibawah kepemimpinan Zia ul Haq yang mencanangkan Islamisasi di segala bidang sudah mencoba mengkaji penciptaan sains Islam. Berdasarkan premis transendental dalam ayat-ayat Al-Quran bahwa jin terbuat dari api tanpa asap, pakar energi ada yang menawarkan energi alternatif: menangkap jin sebagai sumber energi yang gratis. Ada yang mengkaji secara kimia, jin kemungkinan besar terbuat dari gas metan dan hidrokarbon jenuh sehingga bila terbakar tidak mengeluarkan asap. Tetapi tidak dijelaskan bagaimana merealisasikannya. Itulah contoh upaya menjelmakan sains Islam yang dinilai para saintis tidak realistis dan memalukan.
Ada metode yang ditawarkan dengan menggunakan "hati" sebagai penangkap keghaiban untuk memperoleh premis-premis transendental. Karena metodenya bukan metode fisis, maka hasilnya tidak dapat dianggap sebagai sains. Jadi, metode ini tidak mungkin menghasilkan sains Islam. Lagi pula, siapakah yang dapat mengklaim bahwa premis-premis yang digunakan benar-benar bersifat transendental sehingga menjamin "sains" yang dihasilkan bebas dari limbah berbahaya

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad Rifa’i. ILMU, Antara Bebas atau Terikat Nilai diambil dari http://www.inilahjalanku.com/fisika_dan_kimia/ pada tanggal 31 Oktober 2010

Anonim. NETRALITAS SAINS : Perbedaan Cara Pandang Saintis dan Pakar Filsafat Ilmu  dimuat dalam “Radar Bandung”, Ramadhan 1424, 10 & 11 November 2003

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Tulis Komentar !!!